assalamualaikum..
kita belajar tertawa, menangis, tersenyum, marah, menggerutu, atau apapun itu dengan cara kita sendiri...
mungkin...
bukan sekali dua kali kita menghela nafas seraya meredupkan kelopak mata sebagai luapan upaya menjaga hati...
mungkin juga...
bukan sekali dua kali kita menahan nafas seraya menahan gerak mata sebagai luapan harap hati yang penuh dan memang sering memenuhi hari-hari...
kita memang bukan pencipta rasa...kita (bisa jadi) hanya diberi izin untuk menemukan cara yang paling nyaman bagi diri kita sendiri untuk mengungkapkan segala perasaan yang kita rasakan...
kita diberi kemampuan untuk memilih kapan kita tersenyum, kapan kita tertawa, kapan kita menangis, dan kapan kita marah...
walaupun kadang, hasil featuring para perasaan itu membuat kita kehilangan kemampuan memilih jenis ekspresi yang tepat untuk mengungkapkan perasaan itu disuatu waktu...
menurut wsda...
semua masih berasa wajar, selama kita memang tidak menyengajakan diri untuk tidak mengikuti kata hati ttg ekspresi apa yg tepat untuk ditunjukkan..
kalau memang dampak ketidaktepatan ekspresi yang kita keluarkan negatif, kita upayakan untuk memperbaikinya..insyaAllah masih ada waktu...tp kalau memang dampaknya positif, yaa...sudah semestinya kita bersyukur.. Allah masih melindungi kita...
intinya si mengikuti kata hati..karena memang hanya kata hati yang bisa membuat kita merasa lega setelah melakukan sesuatu..
kan kalau katanya kak Agung pas wsda ikut ESQ,
kata hati adalah suara yang bersumber dari Illahi...kadang kita tidak bisa mendengar suara hati kita sendiri karena kita sudah terlalu sering mengabaikannya...
jadi, selama kata hatimu masih terdengar walau hanya seperti bisikkan kecil, ya cobalah diikuti...
seperti alarm yang berbunyi tp diindahkan, maka kita akan terbiasa dengan bunyi alarm itu atau bahkan tidak sadar ketika alarm itu berbunyi...
jangan sampai itu terjadi pada suara hati kita...
hehehe...(duwh, kalau bahasanya aneh gpp yaa...wsda lagi mellow bgd nie)...
bdw, makasii banyak yaa udah mau baca...
wassalamualaikum