Senin, 29 September 2008

Maph yah..

Assalamualaikum..

huff... mengucapkan kata 'maaf' memang sulit,,,tapi kayaknya 'memaafkan setulus hati' jauh lebih sulit lagi...

beberapa saat lagi, pintu idul fitri akan mengetuk...

mungkin ada perseteruan kecil di dalam bathin kita...

sedih karena ramadhan yang baru mulai bisa kita nikmati sebagai sebuah 'kebiasaan baru' akan segera berakhir... sedih karena belum punya baju lebaran,,,(haa"... yang ini jelas gag penting)..sedih karena gag punya pulsa buat sms'an pas hari idul fitri nanti, sekalian juga sedih karena masih ada 'masalah pribadi' dengan orang lain yang harus luntur sesegera mungkin...

sahabat kita bisa jadi nama-nama yang masuk ke urutan teratas dari orang yang mengenal kita dan yang mempercayai kita setelah keluarga, tentunya... mereka juga bisa jadi orang yang paling mudah menyakiti dan juga disakiti tanpa sengaja...

hati-hati ada pepatah yang mengatakan bahwa :

"kadang orang yang bisa menghentikan tangis kita adalah orang yang juga bisa membuat kita menangis"...

uuuuuh,,,,

sebenernya wisda lagi binunn....

sedih aja sama orang yang sikapnya berubah tiba-tiba... dan lama-lama membuat wisda gerah...

hahaha...

dasar wisda masih kurang bisa bersabar...

ayo ikhlas dan bersabar... (memberi semangat tuk diri sendiri)

 

yawda, ayu kita lapangkan hati tuk saling memaafkan...semoga ALLAH meridhoi segala upaya kita dalam membersihkan hati...Amin...

 

Maafkan semua salahku ya teman...

Rabu, 24 September 2008

sendiri beberapa saat...

Assalamualaikum...

kacau...perasaan wisda beneran lagi kacau,,,

mungkin untuk beberapa saat wisda mank butuh untuk menenangkan diri sendiri...hanya dengan sekedar berjalan sendiri... untuk merenung sendiri... hingga wisda wisda bisa menghasilkan suatu pemikiran baru tentang 'perjalanan' ini sendiri...

untuk teman-teman setiaku...maaphkan perubahan sesaatku ini,,,

hanya untuk beberapa saat mungkin aku akan melangkah beberapa senti... itu sudah lebih dari cukup...

dan sungguh bukan karena kalian aku menjauh,,,aku hanya tak ingin membebani,,,bagiku semua hanya perlu waktu...dan waktu yang dibutuhkan insyaAllah tak lama...tolong percaya padaku...

 

jangan berpikir negatif yah....

sungguh kalian adalah orang-orang yang namanya telah terpatri di atas batu hatiku dengan tinta-tinta emas yang di sematkan minimal satu buah intan ditiap hurufnya...

aku sayang kalian sahabatku...

 

sekali lagi, jangan berpikir negatif yah...

luph u so....

Minggu, 21 September 2008

new me..

Assalamualaikum

 

.:Total dan Optimal:.

di segala aktifitas

 

 

bismillahhirahmanirrahim

Minggu, 14 September 2008

karena beliau

Assalamualaikum

hari ini, paguyuban ibu" RT 02/15 di daerah rumah wisda mengadakan bazaar murah... tujuan awalnya memang bukan untuk komersial. dan insyaALLAH dana yang terkumpul akan digunakan untuk kepentingan bersama lagi.

karena wisda anak yang baik, wisda ikutan bazaarnya dunkz,,, walaupun semua yang dateng adalah ibu-ibu (kecuali wisda). dari awal bazaar di buka, baju-baju jadi inceran utama... selanjutnya sembako yang diserbu...setelah baju, gantungan baju juga ikutan dibeli...

harga bajunya berkisar dari Rp 3000-15000,-

sekitar jam 10.30, wisda baru menyadari keberadaan bapak-bapak tua yang menjual balon-balon lucu,,, itu lhow yang bisa bunyi kalu dipencet gituw...ada juga balon yang bentuknya singa dan jerapah...

bapak tua itu berdiri lumayan jauh dari tempat kami mendirikan stand...sekitar 5 meteran lah... keadaannya cukup berbeda. di stand kami, disediakan bangku untuk para ibu-ibu yang menyelenggarakan acara ini, kepala kami juga di naungi dengan terpal yang menjadi tangan panjang ALLAH untuk melindungi kami dari teriknya matahari...

awalnya wisda ngerasa biasa aja sama bapak itu. sampai akhirnya wisda mulai menyadari, kalau bapak itu memperhatikan kami sedari tadi. beliau melihat orang-orang yang lalu-lalang, mengutak-atik dan membalik-balik barang-barang yang ada distand kami.

wisda jadi berpikir, jangan-jangan bapak itu mau ikutan beli, tapi dia malu... wisda nyoba untuk senyum ke arah dia,, tapi dia gag ngeliat wisda...pandangannya lumayan fokus melihatbaju-baju baik yang sudah second sampai yang masih baru yang tergantung di stand kami...

tadinya wisda bingung... kenapa dia gag ikutan beli aja, harganya cuma 3-5 ribuan kok... yang belasan ribuan itu sebagian besar kebaya dan jilbab baru...beliau kan seorang laki-laki, jadi gag usah khawatir dunn untuk beli di stand kami... tapi ternyata, tidak begitu...

wisda kembali berpikir dan akhirnya mulai mengambil beberapa kemungkinan...

dan yang paling membuat wisda terenyeuh adalah...

bapak itu sangan menghargai uang Rp 3ribu yang dia miliki untuk keluarganya. arti sebuah baju mungkin sangat kecil bila dibandingankan dengan ucapan 'alhamdulillah' yang keluar dari bibir istrinya dirumah,,, dan akan menjadi jauh lebih kecil lagi ketika melihat anaknya dapat makan dengan lahap ketika berbuka puasa di penghujung hari ini,,,

sedangkan wisda sendiri, sering mengeluh dan kurang bersyukur ketika hanya memiliki uang Rp 3000...

hahahaha...

semoga apa yang hari ini menyelinap masuk secara perlahan ke dalam kepala wisda hari ini bisa menjadi bahan untuk terus memperbaiki diri,,,amin,,,

 

yasuuw,,, c yach...

Sabtu, 13 September 2008

status IRS:ditolak wadek I

Assalamualaikum...

pusiiing,,,,IRS wisda masih belun disetujuin ma PA nya wisda,,malahan ditolak ma wadek I...tadi pagi udah ketemuan pdahal ma PA wisda..jd, ada satu mata kuliah yang masih 'waiting list'... urutan ke 103 dari kapasitas 100...

katanya anak" yang juga pada waiting list, kita tinggal bilang aja ma PA'nya.. biar disetujuin,,, katanya waiting list itu gag papa...asal bilang ke PA kita... wisda udah bilang ke PA wisda... tapi ternyata pas wisda periksa IRS wisda, malah di tolak ma wadek...hahaha...huff..

pusing??

"heehehehehe...huff,,,"

masalah utamanya adalah... masa add/drop udah selesai jadi wisda udah gag bisa lagi ngutak-ngatik irs'nya...gimana ya?

huaaaa,,,bingung....

 

tapi, semua pasti ada jalan keluarnya,,,

ALLAH gag kan meninggalkanku,,,

"hey 'Masalah', aku punya ALLAH yang BESAR..."

semoga masalah ini cepat selesai,,, Amin,

Jumat, 12 September 2008

hari pertama bawa mobil sendiri

Assalamualaikum...

gak tahu deh berapa kali wisda baca surat alfatihah selama di perjalanan...
hahaha...
iya, hari ini memang hari pertama wisda bawa mobil sendiri ke kampus...kemarin-kemarin, kalu wisda bawa, masih suka ditemenin ma orang rumah...
tapi hari ini, dengan mengucap basmalah wisda coba bawa...

dan sekarang wisda lagi di kampus...
belun pulang...
sengaja mengulur-ulur waktu buat pulang... biznya pulangnya kan mesti bawa mobil lagi... masa mobilnya ditinggal di kampus...
haaha...huff...(n_n);

ini semua gara-gara kakanya wisda yang cerewet banged supaya wisda bawa mobil ke kampus...

yawda, do'akan supaya wisda bisa membawa mobilnya dengan baik-baik saja yah...
gag ada yang kena lecet baik wisda, mobilnya, maupun orang lain
amin...hee"..

yawda,, itu dulu aja...

makaciy yah udah mau baca...

wassalamualaikum...

Jumat, 05 September 2008

diremehin?

Assalamualaikum,,,

 

Umm, apa yang akan kamu lakukan jika kamu diremehin oleh “seseorang” atau “sekelompok” orang?

Selasa, 02 September 2008

seandainya keikhlasan adalah...

Assalamualaikum,,,

Aku berpikir, seandainya ‘keikhlasan’ adalah…

*

Aku menatapnya penuh heran. Jantung ku berdetak cukup keras. Jujur, aku masih tak percaya. Seluruh darahku terkesiap waspada. Ia kini menyelipkan beberapa jarinya di cuping cangkir kopi di depannya. Perlahan menyeruput dengan perlahan. Caranya menikmati tiap teguk kopi itu, membuatku tahu bahwa minuman itu masih dalam keadaan panas. Mataku perlahan terus mengamatinya.

 

”subhanallah...” ia berujar sangat pelan. Sungguhnya, aku tak dapat mendengarnya berkata. Aku hanya membaca gerakan bibirnya.

”umm, saya boleh bertanya?” aku berusaha membuka pembicaraan. Ia pun mengalihkan pandangannya dari cangkir kopinya ke arahku.

Setelah ia meletakkan cangkir yang kini hanya berisi kurang dari setengah gelas kembali ke atas meja kayu, ia tersenyum dan mengangkat kedua alisnya, pertanda mengiyakan.

”apa benar anda...” aku tak berani meneruskan kalimatku. Dia tersenyum datar seakan sudah tahu kemana arah pembicaraanku.

 

”yah, itu benar...saya adalah bintang yang akan tetap bersinar meski awan berulang kali berusaha menutupi. Saya tak peduli, karena saya memang di langit untuk bersinar dan memberikan harapan melalui titik kelip yang bisa kamu lihat...saya bukan bersinar untuk dikagumi, bukan untuk dijadikan judul di tiap puisi,  bukan untuk dipuji karena keindahannya. karena saya memang di langit untuk bersinar dan memberikan harapan melalui titik kelip yang bisa kamu lihat...”

 

Aku mengerutkan dahiku. Terbetik kata ’ah, aku masih tak percaya’.. dan ia nampaknya dapat membaca ketidakpercayaanku. Kini ia kembali tersenyum kecil, hampir tak bisa dikatakan tersenyum sebenarnya.

 

”kamu tahu hujan?” ia bertanya tanpa melihat ke arahku. Telujuk kanannya asyik bergerak membentuk lingkaran di atas meja kayu  yang membatasi tempat kami duduk saat ini.

 

Aku mengangguk perlahan, sejenak aku makin penasaran dengan apa yang akan dijelaskannya mengenai hujan.

 

”sayalah sang hujan... sayalah air deras atau rintik yang turun baik perlahan maupun tergesa-gesa melalui langit. Sayalah bulir air kecil dari kondensasi awan yang membawa nitrogen yang berhasil dipecah para petir di angkasa. Sayalah yang mengantarkan organisme di tanah dapat menangkap hasil dari kerja keras para petir. Iya, sayalah sang hujan. Saya tahu, mungkin kamu adalah salah satu orang yang pernah menghujat saya ketika saya membasahi bumi. Saya tahu, kamu pernah menjadi salah satu orang yang berharap saya tidak turun disuatu waktu walaupun sebenarnya kamu tahu tujuan saya turun dari langit sebagai hujan adalah untuk memberi kebaikan bagi penghuni bumi.”

 

Darahku seakan naik seluruhnya keatas kepalaku. Perasaanku berkecamuk. Aku marah dipermalukan seperti itu. Ia membuatku seperti orang yang tidak pernah bersyukur. Tapi, jujurnya, aku malu. Ia benar. Ia memang benar. Kembali ia tersenyum datar.

 

”tenanglah... aku berani bersumpah aku tak peduli dengan itu semua. Aku akan tetap memberikan rahmatNya yang dititipkanNya melalui titik-titik airku ke bumi. Karena aku bukan menurunkan semuanya untuk dipuji. bukan untuk menjadi bait terdalam dalam sebuah syair, bukan pula untuk menjadi lagu-lagu hits ditangga lagu, karena aku bukan melakukan semua ini untuk ditulis dalam buku sejarah dan bukan pula untuk dibuatkan sebuah autobiografi. Aku hanya ingin melihat kalian semua dapat tetap bernafas, dapat tetap berjalan, dapat tetap hidup. Karena tanaman yang membantu kalian mendapatkan Oksigen membutuhkanku. Hanya itu tujuanku.”

 

Aku mulai terenyeuh. Otot-otot wajahku sudah tak lagi menegang dan memberi kesan heran. Semua sudah luluh. Lidahku mulai mengaku. Aku hanya tak percaya ia adalah ia yang sedari tadi ia bicarakan.

 

kini ia membenarkan posisi duduknya. Matanya sempat menatap ke arah jendela yang menampakkan gelapnya jalanan kota hari ini sebelum akhirnya ia kembali memandangi garis-garis kayu yang terbentuk secara alami dimeja kami.

 

”nak, kamu mau mendengar sedikit ceritaku tentang mawar dan cinta? Ah, iya, kamu pasti sangat tertarik dengan kata cinta.”

 

Aku tersenyum sembari menundukkan  mataku. Aku sengaja tak mengeluarkan sepatah kata pun. Dia jelas tahu apa maksud dari tiap gelagatku.

 

”aku adalah mawar yang memang selalu tumbuh untuk dipetik. Atau busuk di tempatnya. Kamu tahu, aku tak pernah mengeluh. Sungguh akan lebih berat menjadi setangkai sakura yang tumbuh hanya untuk gugur. Aku tak peduli berapa banyak orang yang menghujatku ketika mereka tertusuk duri yang melingkat disepanjang tangkaiku. Padahal mereka semua tahu, tiada satupun mawar yang dapat mengubah letak durinya. Aku tidak pernah sengaja menyentuhkan duri-duriku kepada orang-orang yang ingin menyentuhku. Apalagi membiarkan orang-orang itu tertusuk. Tak apa.. aku mengerti, kita sama-sama kurang memahami... lagi pula aku tak terlalu peduli. Aku bukan tumbuh untuk memberi komentar atas semua hujatan. Bukan pula tumbuh untuk bersedih karena keindahanku kadang terabaikan oleh hal lain yang juga ada padaku...percayalah, sungguh bukan itu. Aku tumbuh hanya untku memberi warna, hanya untuk memberi aroma, yah, alhamdulillah bila memang warna dan aroma ku bisa membuat banyak orang yang tersenyum dan merasa aku bermanfaat.”

 

Ia terdiam beberapa saat. Wajahnya tampak muram. Entah mengapa...

Aku menggigit lemah bibir bawahku. Bahasan kali ini agak berat bagiku. Sedikit berbeda dengan masalah hujan dan bintang.”

 

”sudahlah, nanti kau akan mengerti. Meskipun aku sungguh tak pernah berharap kau mau mengerti. Aku hanya ingin kamu tahu, sekedar tahu. Itu sudah lebih dari cukup bagiku.”

Aku mengangguk beberapa kali dengan maksud ganda. Menandakan aku tahu ’bahwa suatu hari aku akan mengerti’ dan juga bisa berarti ’sudahilah segera bahasan ini dan cepat ceritakan masalah selanjutnya yang tentang ’cinta’.

 

Kini ia menyandarkan tubuhnya dibangku kayu yang hobiienya berdenyit bila ada gerakan sekecil apapun.

 

”cinta itu adalah aku. Karena akulah yang memberikan tanpa peduli ia tahu apa yang aku korbankan untuk yang tercinta. Akulah yang membagi remah roti sisa agar semua dapat menikmati nikmatnya mengunyah makanan. Akulah yang bersabar di hujat dan dihina ketika suatu pemberian hanya menerima suatu kritikkan. Tapi aku memang bukan mencintai untuk dipuji. Dan aku bukan mencintai untuk ”dicinta”...

Aku hanya melakukan segalanya karena aku ingin tersenyum, tanpa ia perlu tersenyum  di hadapanku. Hanya itu...”

 

Aku belum bergeming. Menggantung. Itu adalah kesimpulan yang paling tepat untuk digunakan dalam bahasannya kali ini.

 

Ia mulai berdiri. Aku pun sigap berdiri. Mataku membesar beberapa kali seakan aku berteriak, ”belum selesai! Perbincangan kita belum selesai”

 

”Tenanglah nak. Sungguh nanti kamu akan mengerti” ia menepuk bahuku beberapa kali. Kali kanannya terangkat dan kini ia menuju pintu tempat tadi kami memasuki ruangan ini. Ia pun membuka pintu dan melangkah keluar.

 

Perasaanku galau. Aku masih merasa belum puas. Sesaat sebelum ia menutup pintu dari luar ruang, ia berkata :

”nak, ingatlah... siapa yang paling rela memberikanmu nikmat meski bukan sekali-dua kali kamu melupakan-Nya... sungguh Dialah tempat kamu sesungguhnya mengadu dan Dialah sebenar-benarnya tempat kamu mencari jawaban. Aku percaya, sebenarnya kamu sudah tahu siapa Dia yang ku maksud. Lalu apa yang sesungguhnya kamu nanti?”

Aku cukup tercengang mengdengar kalimat terakhirnya. Setidaknya perbincanganku hari ini dengan ’sang keikhlasan’ memberikanku banyak jawaban dan juga pertanyaan yang besar. Tapi aku kini sadar akan kekuasaanNya, dan betapa IA mencintai kita dengan Maha KasihNya...(wp)