Selasa, 02 September 2008

seandainya keikhlasan adalah...

Assalamualaikum,,,

Aku berpikir, seandainya ‘keikhlasan’ adalah…

*

Aku menatapnya penuh heran. Jantung ku berdetak cukup keras. Jujur, aku masih tak percaya. Seluruh darahku terkesiap waspada. Ia kini menyelipkan beberapa jarinya di cuping cangkir kopi di depannya. Perlahan menyeruput dengan perlahan. Caranya menikmati tiap teguk kopi itu, membuatku tahu bahwa minuman itu masih dalam keadaan panas. Mataku perlahan terus mengamatinya.

 

”subhanallah...” ia berujar sangat pelan. Sungguhnya, aku tak dapat mendengarnya berkata. Aku hanya membaca gerakan bibirnya.

”umm, saya boleh bertanya?” aku berusaha membuka pembicaraan. Ia pun mengalihkan pandangannya dari cangkir kopinya ke arahku.

Setelah ia meletakkan cangkir yang kini hanya berisi kurang dari setengah gelas kembali ke atas meja kayu, ia tersenyum dan mengangkat kedua alisnya, pertanda mengiyakan.

”apa benar anda...” aku tak berani meneruskan kalimatku. Dia tersenyum datar seakan sudah tahu kemana arah pembicaraanku.

 

”yah, itu benar...saya adalah bintang yang akan tetap bersinar meski awan berulang kali berusaha menutupi. Saya tak peduli, karena saya memang di langit untuk bersinar dan memberikan harapan melalui titik kelip yang bisa kamu lihat...saya bukan bersinar untuk dikagumi, bukan untuk dijadikan judul di tiap puisi,  bukan untuk dipuji karena keindahannya. karena saya memang di langit untuk bersinar dan memberikan harapan melalui titik kelip yang bisa kamu lihat...”

 

Aku mengerutkan dahiku. Terbetik kata ’ah, aku masih tak percaya’.. dan ia nampaknya dapat membaca ketidakpercayaanku. Kini ia kembali tersenyum kecil, hampir tak bisa dikatakan tersenyum sebenarnya.

 

”kamu tahu hujan?” ia bertanya tanpa melihat ke arahku. Telujuk kanannya asyik bergerak membentuk lingkaran di atas meja kayu  yang membatasi tempat kami duduk saat ini.

 

Aku mengangguk perlahan, sejenak aku makin penasaran dengan apa yang akan dijelaskannya mengenai hujan.

 

”sayalah sang hujan... sayalah air deras atau rintik yang turun baik perlahan maupun tergesa-gesa melalui langit. Sayalah bulir air kecil dari kondensasi awan yang membawa nitrogen yang berhasil dipecah para petir di angkasa. Sayalah yang mengantarkan organisme di tanah dapat menangkap hasil dari kerja keras para petir. Iya, sayalah sang hujan. Saya tahu, mungkin kamu adalah salah satu orang yang pernah menghujat saya ketika saya membasahi bumi. Saya tahu, kamu pernah menjadi salah satu orang yang berharap saya tidak turun disuatu waktu walaupun sebenarnya kamu tahu tujuan saya turun dari langit sebagai hujan adalah untuk memberi kebaikan bagi penghuni bumi.”

 

Darahku seakan naik seluruhnya keatas kepalaku. Perasaanku berkecamuk. Aku marah dipermalukan seperti itu. Ia membuatku seperti orang yang tidak pernah bersyukur. Tapi, jujurnya, aku malu. Ia benar. Ia memang benar. Kembali ia tersenyum datar.

 

”tenanglah... aku berani bersumpah aku tak peduli dengan itu semua. Aku akan tetap memberikan rahmatNya yang dititipkanNya melalui titik-titik airku ke bumi. Karena aku bukan menurunkan semuanya untuk dipuji. bukan untuk menjadi bait terdalam dalam sebuah syair, bukan pula untuk menjadi lagu-lagu hits ditangga lagu, karena aku bukan melakukan semua ini untuk ditulis dalam buku sejarah dan bukan pula untuk dibuatkan sebuah autobiografi. Aku hanya ingin melihat kalian semua dapat tetap bernafas, dapat tetap berjalan, dapat tetap hidup. Karena tanaman yang membantu kalian mendapatkan Oksigen membutuhkanku. Hanya itu tujuanku.”

 

Aku mulai terenyeuh. Otot-otot wajahku sudah tak lagi menegang dan memberi kesan heran. Semua sudah luluh. Lidahku mulai mengaku. Aku hanya tak percaya ia adalah ia yang sedari tadi ia bicarakan.

 

kini ia membenarkan posisi duduknya. Matanya sempat menatap ke arah jendela yang menampakkan gelapnya jalanan kota hari ini sebelum akhirnya ia kembali memandangi garis-garis kayu yang terbentuk secara alami dimeja kami.

 

”nak, kamu mau mendengar sedikit ceritaku tentang mawar dan cinta? Ah, iya, kamu pasti sangat tertarik dengan kata cinta.”

 

Aku tersenyum sembari menundukkan  mataku. Aku sengaja tak mengeluarkan sepatah kata pun. Dia jelas tahu apa maksud dari tiap gelagatku.

 

”aku adalah mawar yang memang selalu tumbuh untuk dipetik. Atau busuk di tempatnya. Kamu tahu, aku tak pernah mengeluh. Sungguh akan lebih berat menjadi setangkai sakura yang tumbuh hanya untuk gugur. Aku tak peduli berapa banyak orang yang menghujatku ketika mereka tertusuk duri yang melingkat disepanjang tangkaiku. Padahal mereka semua tahu, tiada satupun mawar yang dapat mengubah letak durinya. Aku tidak pernah sengaja menyentuhkan duri-duriku kepada orang-orang yang ingin menyentuhku. Apalagi membiarkan orang-orang itu tertusuk. Tak apa.. aku mengerti, kita sama-sama kurang memahami... lagi pula aku tak terlalu peduli. Aku bukan tumbuh untuk memberi komentar atas semua hujatan. Bukan pula tumbuh untuk bersedih karena keindahanku kadang terabaikan oleh hal lain yang juga ada padaku...percayalah, sungguh bukan itu. Aku tumbuh hanya untku memberi warna, hanya untuk memberi aroma, yah, alhamdulillah bila memang warna dan aroma ku bisa membuat banyak orang yang tersenyum dan merasa aku bermanfaat.”

 

Ia terdiam beberapa saat. Wajahnya tampak muram. Entah mengapa...

Aku menggigit lemah bibir bawahku. Bahasan kali ini agak berat bagiku. Sedikit berbeda dengan masalah hujan dan bintang.”

 

”sudahlah, nanti kau akan mengerti. Meskipun aku sungguh tak pernah berharap kau mau mengerti. Aku hanya ingin kamu tahu, sekedar tahu. Itu sudah lebih dari cukup bagiku.”

Aku mengangguk beberapa kali dengan maksud ganda. Menandakan aku tahu ’bahwa suatu hari aku akan mengerti’ dan juga bisa berarti ’sudahilah segera bahasan ini dan cepat ceritakan masalah selanjutnya yang tentang ’cinta’.

 

Kini ia menyandarkan tubuhnya dibangku kayu yang hobiienya berdenyit bila ada gerakan sekecil apapun.

 

”cinta itu adalah aku. Karena akulah yang memberikan tanpa peduli ia tahu apa yang aku korbankan untuk yang tercinta. Akulah yang membagi remah roti sisa agar semua dapat menikmati nikmatnya mengunyah makanan. Akulah yang bersabar di hujat dan dihina ketika suatu pemberian hanya menerima suatu kritikkan. Tapi aku memang bukan mencintai untuk dipuji. Dan aku bukan mencintai untuk ”dicinta”...

Aku hanya melakukan segalanya karena aku ingin tersenyum, tanpa ia perlu tersenyum  di hadapanku. Hanya itu...”

 

Aku belum bergeming. Menggantung. Itu adalah kesimpulan yang paling tepat untuk digunakan dalam bahasannya kali ini.

 

Ia mulai berdiri. Aku pun sigap berdiri. Mataku membesar beberapa kali seakan aku berteriak, ”belum selesai! Perbincangan kita belum selesai”

 

”Tenanglah nak. Sungguh nanti kamu akan mengerti” ia menepuk bahuku beberapa kali. Kali kanannya terangkat dan kini ia menuju pintu tempat tadi kami memasuki ruangan ini. Ia pun membuka pintu dan melangkah keluar.

 

Perasaanku galau. Aku masih merasa belum puas. Sesaat sebelum ia menutup pintu dari luar ruang, ia berkata :

”nak, ingatlah... siapa yang paling rela memberikanmu nikmat meski bukan sekali-dua kali kamu melupakan-Nya... sungguh Dialah tempat kamu sesungguhnya mengadu dan Dialah sebenar-benarnya tempat kamu mencari jawaban. Aku percaya, sebenarnya kamu sudah tahu siapa Dia yang ku maksud. Lalu apa yang sesungguhnya kamu nanti?”

Aku cukup tercengang mengdengar kalimat terakhirnya. Setidaknya perbincanganku hari ini dengan ’sang keikhlasan’ memberikanku banyak jawaban dan juga pertanyaan yang besar. Tapi aku kini sadar akan kekuasaanNya, dan betapa IA mencintai kita dengan Maha KasihNya...(wp)

2 komentar:

  1. wah dalem bgt tulisannya..huhu
    wisda ajarin nulis dund! hehe

    BalasHapus
  2. haha.. nita bisa aj... wisda jg gy belajar nulis nit,,,
    belajar bareng yah...

    BalasHapus