waktu tanggal 6 n 7 januari kemarin, diadain LDO di fakultas... itu tuwh kayak team buildingnya senat. nah, bidangnya wisda itu dapet warna oranye, jadi semuanya serba pake warna oranye deh...oia, selain itu kita dapet tugas buat bulletin... um, kemaren wisda sempet buat cerpen untuk buletin itu...silakan dibaca ya...
Membayar Lelahku
“Huff..masih kurang juga rupanya..” Aku menghela nafas sesaat sebelum memasukkan kembali uang-uang yang berserakkan dihadapanku ke dalam dompet.
Semuanya bermula dari kejahilan Delfy dua hari yang lalu. Ia mengikat kedua tali sepatuku menjadi satu saat aku tengah menikmati bakso Pak Dandi. Dapat dibayangkan kejadian selanjutnya. Aku terjatuh ketika hendak berjalan dan parahnya lagi, aku tak sengaja mendorong gerobak bakso Pak Dandi sekaligus menumpahkan seluruh isinya. Eitz, ternyata itu belum seberapa, dua dari empat kaki gerobak itu patah. Sudah pasti Pak Dandi meminta ganti rugi padaku, karena untuk beberapa waktu ia tak dapat jualan bakso lagi dengan gerobak patahnya. Tak tanggung-tanggung, ia meminta ganti rugi sebesar Rp. 350.000,00dalam waktu 4 hari untuk membayar ganti rugi itu.
Jujur saja, uang saku bulananku hanya cukup untuk biaya makan seminggu. Padahal, bulan ini masih tersisa sekitar 10 hari lagi. Ya..mau tak mau aku harus berupaya semampuku untuk mencari uang agar dapat memenuhi tanggung jawabku. Pada awalnya, Delfy-sahabatku-berjanji akan membantu. Tapi kini, ia entah dimana. Padahal besok aku sudah harus menghadap pak Dandi di tempat ia biasa mangkal, tapi uang yang ada ditanganku hanya ada Rp. 211.500,00. Entahlah, apa yang akan terjadi besok. Sudah segala cara kuusahakan, dari meminta uang saku bulan depan lebih dulu, mengirit porsi makanku, sampai menjual jasa membungkus kado atau membuat kartu-kartu ucapan. Tapi, dengan waktu yang begitu singkat, apa yang bisa kulakukan? Aku kembali membuat kartu ucapan. Aku tahu, aku tak boleh putus asa. Aku hanya tinggal berdoa dan berpikir lebih keras lagi untuk mendapatkan sisa uang yang kubutuhkan.
Malam rasanya terlalu singkat, sekarang sudah pukul 4.30 pagi. Tanganku masih asik menggunting, menempel dan terus menyelesaikan kartu ucapan yang tersisa. Pukul 7.00 pagi ini aku harus mengantarkan kartu-kartu ini ke kost-an pemesannya. Aku tahu, walaupun pemesan kartu-kartu itu telah membayar lunas semua, uang yang kudapat tidak akan mencapai Rp. 350.000,00. Sudahlah, aku tahu pasti dalam waktu yang masih tersisa ini, aku pasti bisa mendapatkan uang itu. Setelah menyelesaikan kartu terakhir, aku bergegas mempersiapkan diriku untuk keluar dan menjalani hariku, hari ini.
Waktu berjalan sangat cepat, bahkan terlalu cepat. Kini kakiku tengah melangkah kearah tempat mangkal pak Dandi. Jantungku berdegup keras, jauh lebih keras dari gebukan dram pemusik rock sekalipun. Dari kejauhan, aku dapat melihat pak Dandi berdiri. Didekatnya ada seorang gadis berambut ikal kemerahan berdiri. ”Ya, Allah! Itu Delfy, dia ada disana.” aku berujar sendiri.
Sesampainya aku didekat mereka, Delfy menghampiriku. Matanya merah, sepertinya ia habis menangis. Aku tak dapat menolak pelukannya.
”Maaf Lis, usahaku berjualan jus buah hanya menghasilkan Rp. 105.500,00.” secepat mungkin aku melerai pelukan gadis berkacamata itu dan berkata :.
”Alhamdulillah, Del, uang kita cukup untuk membayar pak Dandi. Uangku hanya kurang Rp. 85.000,00 lagi. Uang kita... uang kita malah lebih. Aha...ha....ha...” aku tertawa puas. Delfy tetap menangis, namun kali ini disertai senyum manisnya. Aku begitu puas hari ini. Seluruh waktu tidurku yang terlewat sepertinya sudah terbayar. Aku tahu, do’a, usaha, keyakinan kuatlah yang membayar semuanya.. Yupz, merekalah yang membayarnya.
eh, ditunggu lho komentarnya...
hebat!!!!
BalasHapusBagus lho... Dari dulu ima juga sebenernya pengen nulis cerpen bwt diri sendiri, tapi begitu mau ditulis, jadi bingung mo nulis apaan he..he.. ajarin dong...
BalasHapus100 jempol bwat wisda....(jempolnya sapa aja tuh ya??)
BalasHapus