Minggu, 18 Maret 2007

Cerpen tp,,

Memang Terluka


Oleh : Wisda Prasparani


 


            ”ehm...ehm...aku terbang. Aku menyapa awan dan aku terus meninggi. hingga ketika aku hampir menyentuh langit... aku baru sadar bahwa aku lupa membawa sayapku... .”Rista membaca keras sebuah puisi dari buku yang kini ada ditangannya. Aku yang kini tengah duduk disudut belakang ruang kelas tersenyum melihat laku sahabatku itu. Anak-anak kelas yang berada diruanganpun tertawa melihat tingkah anehnya.


            Rista melanjutkan membaca puisinya. Aku merasa sangat mengenal puisi itu. Sepertinya... .


            ”ooh!!!” aku berlari kearah gadis tomboy yang segera melempar sebuah buku puisi ketika menyadari aku akan menghampirinya. Dengan sigap aku menghentikan lariku dan berjalan pelan kearah buku puisi itu terjatuh. Aku tersenyum setelah melihat nama penulisnya.


            ”lo dah beli buku gue?” aku bertanya kepada Lista tanpa memandang wajahnya.


            ”lo kok gak bilang-bilang sih kalo buku puisi lo dah terbit? Untung gue kemaren jalan-jalan ketoko buku, terus pas gue lihat ada buku lo itu, langsung gue beli deh.” ujar gadis yang merupakan mantan ketua ekskul Voli itu santai.


            ”basi tahu! Buku ini dah terbit sebulan yang lalu. elo malah baru tahu. Payah lo... .” aku mengembalikan buku puisi itu kepada Rista. Perlahan aku berjalan kembali ke mejaku. Rista mengikuti dari belakang dan kemudian duduk disebelahku.


            ”mangnya elo ke toko buku sama siapa?” tanyaku seraya mencontek tugas matematika.


            ”sama Rendra.” jawabnya singkat. Aku segera mendangak dan memandang wajah Rista dengan kaget.


            ”dia ngomongin elo terus Ran. Kenapa juga sih elo gak jadian aja sama dia? dia kan baik banget orangnya.”Rista kembali berbicara.


            ”ya...gimana mau jadian kalau dia aja gak pernah nembak gue.” jawabku asal. Aku segera melanjutkan mencontek tugas.


*


 


            ”kemarin Rendra telepon lo ya?!” Rista bertanya. Aku yang sedang membaca buku paket Biologi hanya mengangguk.


            ”dia ngomong apa aja?” kali ini Rista merebut buku yang ada ditanganku dan meletakkannya diatas meja.


            ”iih, ntar gue mau presentasi nih!” aku kembali mengambil buku itu.


            ”bukannya elo dah tahu dari Rendranya sendiri? Kenapa masih nanya lagi sama gue?!” lanjutku.


            ”iya sih, tapi gue belum puas kalau belum denger juga dari elo. Ceritain dong!” Cewek berambut hitam dengan panjang sebahu itu mengguncang-guncangkan tubuhku.


            ”duh, ganggu konsentrasi aja sih?!” aku mulai sewot. Setelah menutup buku biologi dan meletakkannya diatas meja aku mulai bercerita.


            ”kemarin Rendra cerita waktu elo ama dia pergi ketoko buku terus beli buku puisi gue. Dia bilang waktu itu dia seneng banget. Dia juga bilang kalo elo itu orangnya asik banget buat diajak curhat plus diajak jalan. Pokoknya kemarin kita banyak ngomongin elo deh.” ceritaku.


            ”jadi kemarin pada ngomongin gue? Kok Rendra gak cerita ya? Dasar tuh anak. Oh iya, tadi Rendra nitip salam tuh buat elo.”


            ”wa’Alaikumsalam. Um, emangnya tadi elo ketemu sama dia?”


            ”tadi pagi dia jemput gue, jadi kita berangkat kesekolah bareng gitu deh. Dia itu baik banget lho. Orangnya juga perhatian.” jawab Rista sebelum meneguk air mineral yang sedari tadi berada digenggamannya. Setelah itu kami terdiam dan kemudian Rista pergi keluar kelas.


            Pikiranku buyar. Aku mulai tak memperdulikan rasio fenotipe dari hukum mendelian yang baru saja aku hafalkan. Aku memikirkan Rendra dan Rista. Aku memang menyukai Rendra, setidaknya setelah ia mulai mendekatiku lebih dahulu. Ditambah lagi dengan adanya pujian dan sanjungan yang tak pernah habis dari bibir mungil Rista tentang pria berkulit putih itu. Rasanya aku semakin menyukai Rendra. Tapi ada yang mengusik ketenangan hatiku.


            Jika ingin pergi, Rendra selalu meminta Rista yang menemaninya. Bukan aku. Jika Rendra menghubungiku, yang selalu kami bicarakan adalah tentang sohib tomboiku itu. Dan anehnya, Rista sendiri juga selalu berbicara tentang betapa baiknya seorang Rendra. Aku merasa ada sesuatu yang aneh. Aku menepis semua pikiran burukku dan memutuskan untuk kembali belajar.


*


 


            Lamunanku malam ini terhapus. Bunda mengetuk pintu kamarku. Aku menyeret langkahku perlahan dan membuka pintu.


            ”itu, Rista dateng. Kamu temuin sana.” kata bunda. Dengan malas aku menuruni tangga dan menemui sohibku itu diruang tamu.


            ”Hai Ris, tumben malem-malem datengnya. Ada apa nih?” aku duduk disofa terdekat. Rista tampak berbeda malam ini. jujur saja, ia tampil begitu cantik. Tak biasanya ia datang kerumahku dengan penampilan serapi ini. biasaanya dia datang kerumahku dengan keadaan yang ’seadanya’. Entahlah, aku tak terlalu memikirkan tentang penampilannya. Aku hanya heran mengapa ia datang malam-malam begini kerumahku. Sangat tak biasa.


            ”Ran, lo sahabat gue kan?” tanya Rista tanpa melihat mataku. aku duduk mendekat dengan gadis tomboy yang telah kukenal sejak 3 tahun yang lalu itu.


            ”Ya, iyalah Ris. Lo kenapa sih? Ada yang perlu gue bantu? Atau ada yang mau elo ceritain?”


            ”he-eh, Ran. Gue..gue butuh bantuan lo plus mau menceritakan suatu hal. Tapi elo mau kan bantuin gue?” lagi-lagi Rista tak menatap mataku.


            ”iya,  InsyaAllah kalo gue bisa bantu, pasti gue bantuin elo. Ada apa sih?” aku meletakkan tanganku dipundak Rista.


            ”Ran, gue mau cerita sama elo. Gue baru aja jadian..sama Rendra.” Rista melihat mataku sesekali. Aku melepas tanganku dari bahunya.


            ”Ran, gue minta tolong banget supaya elo gak marah sama kita. Please, Ran.” Lanjut Rista.


            Sekarang giliranku yang tak mau melihat mata sahabatku itu. Sejenak, kami berdua tak bersuara. Yang pasti aku merasa dikhianati. Dengan tenang aku mengangguk dan berkata,


            ”Ris, gue gak marah kok.” Jawabanku disambut dengan pelukan hangat Rista. Namun, ketika aku menyadari ada orang lain yang hadir didekatku dan Rista, aku melerai pelukan kami.


            ”trim’s ya Ran. Lo emang ’beda’ dari cewe yang lain.”ujar Rendra. Aku hanya tersenyum.


            Selanjutnya aku mengantar mereka hingga kedepan rumah. Dengan sekuat hati aku tersenyum melambaikan tangan untuk mengantarkan mereka pergi. Sayangnya, bendungan hatiku terlalu rapuh. Hingga aku menangis dan berlari masuk ke kamarku.


***


 

3 komentar: