Aku berbicara tanpa henti
Aku memandang meski semua tak pasti
Suaraku kali ini begitu nyaring
Begitu mengisi ruang udara yang ada
Mataku tak sekedar memicing dan membelalak
Aku benar membuka luas kelopak mata
Dan meyakinkan mega tuk tetap merona,
Ditepi persinggahan mentari...
Disekitar kita, bayangan bulan asyik berlari
Kita semua hanya sibuk bersembunyi
Tapi, aku berbicara tanpa henti
Meski kadang aku jua berfikir semua tak pasti
Tapi, suaraku tetap saja nyaring
Meski kadang jua,
aku menghilangkan beberapa nada ketinggiannya
perlahan, kedua kelopak mataku memaksa menyempit
nafasku semakin terengah
kakiku melemas
bibirku gemetar, menggetarkan kata yang harus terujar...
akh, aku sudah pada titik ini...
titik ketakutanku
titik kesendirianku
titik-titik kecil yang sebaiknya kulewati saja tanpa peduli
kalimat tak bertenaga yang keluar dari lidah tak banyak makna itu
seharusnya ku hempaskan jauh dari jiwaku
suara itu hanya suara...
tak kan ku biarkan ia, atau aku sebut saja dengan kata ’mereka’
menghancurkan semangatku...
tak akan kubiarkan...
maaf yah...
Hufff.,buat ukuran se0rang yg ngerti lirik lagu aj lama bAnget.,kata2 lo bAk bhasa dr negara laen wis..gw ga ngerti.,*g pernah mengerti puisi* hohoho., :-P
BalasHapussebenernya...
BalasHapusitu alasan wisda suka puisi...
gag semua orang tahu artinya
dan gag semua menafsirkannya dengan sama...
hahaha..
wisda mank bukan orang yang 'terbuka' bgd...
akhir2 ini gw kyk 'kehilangan' kmampuan bwt bikin puisi wis,, mgkn jiwa gw sdh dikekang oleh hidup, dihantui oleh cobaan yg menguji pendirian..
BalasHapus