disela-sela air mata yang mengalir tanpa terseka, aku jadi berpikir...
apakah aku yakin bahwa orang yang selama ini aku sayangi adalah orang yang paling sering membuat air mataku bergulir diwajah ini?
atau yakinkah aku bahwa orang yang menyayangiku adalah orang yang sengaja atau tidak sengaja membuatku menunduk dan meresapkan tiap titik air mataku pada kain melingkar dilengan bajuku?
lalu...
sekuat apa keyakinan itu?
ketika aku merasa membutuhkan dukungan dan orang yang kuharapkan tak dapat memberikannya, mengapa aku harus merasa kesal?
mengapa pula aku merasa kecewa ketika aku benar-benar tengah gelisah karena mengejar waktu yang terus berlari, sedangkan ia tak mengerti kegelisahanku?
mengapa aku harus bersikap begitu?
mengapa harus merasa kesal dan mengapa pula aku harus merasa kecewa?
sedangkan semua itu terjadi karena aku yang terlalu banyak berharap...
aku yang terlalu berharap ia bisa membaca pikiranku dan secara tiba-tiba memberikanku ribuan dukungan serta jutaan gundukan pengertian sehingga aku terbebas dari segala kepenatan dan kegelisahanku saat ini...
lalu,
mengapa aku harus banyak berharap padanya?
mengapa mesti banyak berharap bila ujungnya hanya air mata, kesal, dan kecewa?
dan aku hanya mampu menghela nafas..
merapatkan penutup tasku..
beranjak ke pintu..
memakaikan alas kaki pada kedua telapak kaki
lalu..
aku pergi meninggalkannya..
meninggalkannya saat ia berupaya untuk menahan kepergianku...
padahal, smw yang terjadi bukan salahnya..
semua salahku...
salahku yang terlalu banyak berharap...
ya, aku yang terlalu banyak berharap...
emosinya bener2 berasa buat yang baca
BalasHapussalam kenal ya, Rio
n_n
(n____n)v
BalasHapusmakasii yaa ud mau baca,,hehe
salam kenal jg...
yup sama2
BalasHapus