Minggu, 18 Maret 2007

Cerpen tp Panjang

Semua yang Hilang


Oleh : Wisda Prasparani


 


            ”Den, gimana nih?” aku mengguncang-guncangkan tubuh temanku yang tengah asik menyeruput es kelapa muda dihadapannya.


            ”duh, bukannya elo emang suka sama dia?” tanyanya yang disertai anggukan dariku.


            ”lantas? Apa masalahnya? Tinggal jawab aja, apa susahnya sih?” lanjutnya. Tangannya sibuk mengambil helaian kelapa muda dengan sendok kecil. Aku tak menjawab. Spontan aku menyandarkan tubuhku dibangku kantin yang tengah kami duduki. Dena menoleh kearahku dengan mulut penuh. Ia berusaha menelannya dan kemudian mulai berkata.


            ”elo takut sama Cally?” aku sengaja tak menjawab. ”Cally itu anaknya sportif kok. Dia gak akan musuhin elo walaupun elo jadian sama Ries. Lagipula, Cally juga sudah tahu kok kalau elo juga ngegebet cowok yang sama dengan dia, dan dia gak masalah tuh. Jadi, ya... tinggal jawab aja, gampang kan?”. aku tersenyum kecut. Ternyata sohibku ini tak mengerti sepenuhnya masalah yang aku hadapi.


            Aku pamit untuk pulang duluan. Pikiranku sedang kacau. Malam ini, pukul 19.00 teng, Ries akan menagih jawabanku. Dan sampai sekarang, aku masih... bingung. Jarak sekolahku dan rumah tidak terlalu jauh. Terkadang aku sering jalan kaki bila sedang irit ongkos, seperti saat ini.


*


 


            Keesokan harinya disekolah, saat istirahat... .


 


            ”Den,  ini buku yang mau lo pinjem. Nanti balikin ke gue pas pulang ya. Besok gue ada ulangannya nih. Oc?” ujarku.


            “wah, asik dong. Besok kasih tahu soal-soal yang keluar ya?” celetuk Dena girang. Aku tak menjawab. Hanya tersenyum kecil.


            oh iya, Nad. Gimana kemarin? Kok elo gak cerita sih?” Dena mulai serius. Aku tertawa sejenak dan kemudian duduk disebelahnya.


            ”gue dah jawab, Den. Insya Allah itu adalah jawaban yang terbaik. Amin” Dena mulai tampak bingung. ”maksudnya?” tanya Dena sambil membenarkan poninya.


            ”kita jadi temen gitu deh. ” jawabku singkat. Dena menutup mulutnya. Ia tampak begitu kaget. Aku segera memalingkan wajahku. Selama beberapa detik kami tak bersuara. ”Nad, lo gila ya?!” Dena memulai kembali pembicaraan. Matanya tidak menatapku. ”apa sih alasan lo?” tanyanya lagi.


            ”Den, ternyata Ries juga tahu kalau Cally suka sama dia. Cally dah pedekate sama Ries sejak 4 bulan yang lalu. Den, Cally itu pernah tutup buku soal yang namanya cowok sejak dia putus sama mantannya setahun yang lalu. Dan sekarang Ries itu cowok yang bisa membuat dia lupa sama mantannya.Gue tahu dia gak akan musuhin gue kalau gue jadian sama Ries, tapi Cally itu perasaannya sangat lembut. Bisa-bisa dia sakit hati gara-gara gue. Gue gak mau, Den.” jelasku.


            Kini Dena menatapku. Tanpa suara, tanpa kejapan mata lentiknya. Tapi aku tahu, dia pasti mengerti maksudku.


*


 


Beberapa minggu kemudian, di perpustakaan... .


 


            Aku memandangi seorang cowok. Rasanya aku pernah mengenalnya. Namun, baru pertama kali aku melihatnya disini. Sayangnya, cowok itu duduk membelakangiku. Jadi aku tidak tahu bagaimana wajahnya. Aku kembali membenamkan wajahku kedalam ensiklopedia biologi yang begitu tebal dan berat. Aku sadar kalau cowok itu mulai berjalan menghampiriku, namun aku berpura-pura tidak mengetahuinya.


            ”Nadiena?!” tanya cowok itu. Aku mendangak. ”ya?!... ups, Riza?! Hai, apa kabar?!” aku begitu kaget hingga tak dapat mengendalikan volume suaraku. Tentu saja semua anak melihat dengan pandangan yang cukup sinis kearahku. Aku mengucap maaf dan kemudian menarik Riza keluar dari ruangan.


            ”kok elo ada disini, Za?” tanyaku. Riza memandangku sesaat sebelum menjawab.


            ”elo?! Hm, aku anak baru disini. Ternyata kamu sekolah disini ya?” aku hanya mengangguk beberapa kali. Aku?! Kamu?! Kok Riza ngomongnya masih gitu sih? Tanyaku dalam hati. dikejauhan aku melihat Dena. Spontan aku memanggilnya hingga Dena berjalan kearahku.


            ”Lho?! Kalian dah saling kenal ya?” Dena memandangi kami berdua secara bergantian. Aku hanya tersenyum. Tak lama kemudian aku pamit kepada Riza untuk pergi ke kantin bersama Dena.


            ”hah?! Jadi dia itu mantan lo?!” Suara Dena meninggi. Aku memadang sekitar untuk memastikan bahwa Riza tak ada disekitar kami.


            ”iya, kita putus gara-gara dia mesti pindah ke Kalimantan. Gak nyangka kita bisa ketemu lagi disini. Tapi yang buat gue seneng itu, dia masih ngomong ’aku-kamu’ ke gue. Duh, seneng banget. He...he... .”


            ”Nad, Ries mau dikemanain? Hu...dasar Nadien. Um, emangnya elo masih suka sama Riza?”


            ”emm, gak ngerti. Gue gak mikir sejauh itu. Gue bisa ketemu lagi sama dia, bisa ngobrol lagi sama dia, ditambah dia masih inget sama gue aja gue dah seneng banget. Um, rasanya gue melayang jauh tinggi.”


            ”apalagi kalau kalian berdua balikan, wah, bisa-bisa elo terbang melayang jauh menembus angkasa raya. Wuihh, serem amat. Haha...ha... .” Dena tertawa. Dena memang paling tahu cara menggodaku.  ”tapi, kalau terbang jangan lupa daratan. Nanti kalau sudah jauh tinggi, baru sadar deh kalau elo lupa bawa sayap. Huuu... sakit kan?!” Dena menasehati.


*


 


            Aku melihat layar handphoneku yang berbunyi. Tertulis ’..RiZ@..’.


            ”Ya, Za?” aku menjawab telepon itu.


            ”Dien, maaf ganggu. Aku lagi seneng nieh. Aku baru aja jadian!!! Wah, aku seneng banget!!!” Riza bercerita.


            ”Alhamdulillah, berarti sebentar lagi gue bakalan kenyang nieh. Hehe..he... . siapa cewek lo? Gue kenal gak?” ujarku nyerocos.


            ”elo?! Gue?! Hehe... kamu kenal kok sama cewek itu. Dia juga satu sekolah sama kita. Besok aku traktir kamu sama Dena makan deh, sekalian sama my sweety juga. Ha..ha... .”


            ”oc. Sampai besok temanku yang lagi senang. See ya!”


            ”temen?!kok ’temen’? Hm.. yeah, see ya!” kata riza menutup pembicaraan.


Aku tersenyum dan segera menghentikan senyum itu, sejujurnya aku bingung dengan perasaanku. Rasanya aku sedih, tapi aku juga senang. Aku membuka jendela kamarku dan memandang langit yang kelam. Tak ada bintang ataupun bulan. Semuanya seperti bersembunyi dariku. Sepertinya aku benar-benar lupa membawa sayapku saat terbang. Aku berjalan menuju meja belajarku untuk menyiapkan buku pelajaran untuk esok hari. Namun, mataku tertuju pada sebuah foto yang telah aku pajang sejak dua bulan yang lalu. Foto Ries. Ia tampak begitu keren dengan kaos hitamnya. Gayanya juga terlihat begitu natural. Ditambah dengan senyum manisnya. Aku baru sadar kalau Ries masih ada didalam hatiku.


            Aku mendengar handphoneku kembali berbunyi. Ada sms masuk. Aku membuka daftar inbox dan dengan begitu semangat aku membaca sms itu. ”Ass. Nad, sbtu mlm bsk kmu mw g jln ma ak?” sms itu dari Ries. Senyum langsung tercipta diwajahku. Aku sedang memikirkannya dan ia mengajakku jalan malam minggu besok. Duh senangnya. Aku membalas sms itu dengan segera.


            ”Wa’Alaikmslm. Yup, boleh juga tuh. Kebetulan lagi g ad acra ni.” Aku tidak dapat menahan senyum bahagiaku merekah. Aku membanting tubuhku keatas ranjang. Hm, aku tak sabar menunggu akhir pekan minggu ini.


*


Jum’at, pukul 14.30. saat pulang sekolah... .


           


            ”Riza itu gila ya?!” Gerutu Dena. ”baru beberapa minggu dia disini, eh, dia malah udah duluan dapet pacar. Kalah gue... . walah...walah... . Ups, kok elo diem aja? Elo pasti patah hati?”


            ”apaan sih lo Den? Gue juga enggak tahu. Perasaan gue aneh, gue seneng sih mereka jadian, tapi kok kayaknya ada yang hilang ya?” jawabku


            ”ya udahlah, mungkin dia memang bukan yang terbaik untuk elo.”


            ”tapi kok gue jadi kepikiran sama Ries ya?! Gue baru sadar kalau gue ternyata masih sayang sama dia.” aku mengaku.


            ”ah, gue gak ngerti akh sama lo. Gue duluan ke kantin ya... Riza pasti dah nungguin kita. Dia kan ada janji untuk traktir gue dan elo.” Selepas menyelesaikan kalimatnya, Dena mempercepat langkahnya dan meninggalkanku sendiri di tengah lapangan.


            ada yang berbeda dengan Dena. Kenapa ya?!” aku mengangkat kedua bahuku dan mempercepat langkahku juga.


*


 


Malam minggu, pukul 19.30


 


            Ries yang selalu mengenakan kaos hitam tengah duduk dihadapanku. Tangannya memutar-mutar sedotan didalam kentalnya jus alpukat. Sedari tadi kita berangkat, hingga sekarang kami hanya membicarakan masalah Cally. Aku menceritakan kepadanya tentang masa lalu Cally dengan mantannya. Aku senang Ries mau mendengar semua tentang Cally.


            ”jadi kamu nolak aku karena kamu takut Cally gak mau lagi jatuh cinta ya?” Ries menghentikan putaran sedotannya.


            ”ya, bisa dibilang begitu sih... .” aku menyeruput jus durian dihadapanku. Mm, rasanya enak.


            ”walaupun kamu suka sama aku?” tanya Ries. Aku tersentak. Jujur saja aku sangat kaget. Aku merasakan jantungku berdetak terlalu cepat.


            ”kok kamu nanya gitu sih?” aku serius.


            ”hm...” Ries menunduk sesaat dan kembali menatapku lekat. ”kenapa sih kamu baik banget? Sampai rela ngorbanin perasaan kamu sendiri. Kalau bukan karena dengar alasan kamu nolak aku, mungkin sampai sekarang aku masih belum rela ditolak sama seorang cewek yang spesial kayak kamu.”


            ”ah, lo bisa aja... .” aku tersipu. Sepertinya wajahku memerah. Aku hanya berharap Ries tak melihat wajah merahku. Dalam hati, aku berjanji akan menerimanya, jika saja dia kembali menyatakan perasaannya. Ukh, pasti menyenangkan.


 


Minggu malam pukul 19.00...


 


Ada sms yang masuk kedaftar inbox-ku. Aku berharap itu sms dari Ries. Aku melonjak-lonjak kegirangan saat tahu itu adalah sms dari Ries. Namun, beberapa saat kemudian kakiku melemas. Aku pun lunglai dan terduduk dilantai kamarku.


            ”Ass. Nad, trims bgd..coz lw dah ngbuka mta gw u/ nembak Cally. Skrg gw dah jdian ma dy. Trims y.. Oy,bsk pas istrht gw mw trktir lw n Dena. Wass”


            Aku segera menelepon Dena dengan handphoneku. Aku sudah tak perduli dengan ’program pengiritan pulsa’ yang tengah aku jalani.


            ”Nad??” Dena menjawab dari seberang


            ”Den, lo tau ga?! Ternyata...” Dena memotong kata-kataku


            ”yup, gue dah tau. Tadi Cally baru aja nelepon gue.”


            “oh, lo dah tau ya?! Iya nih, masa gue jadi sedih gitu. Rasanya gue pengen nangis, Den.”


            ”Sedih?! Kenapa?! Bukannya elo emang ingin mereka jadian?!” Dena berbicara agak ketus.


            ”iya, tapi sekarang gue udah sadar kalau ternyata gue sayang banget sama Ries. Tapi kayaknya semua sudah percuma deh.”


            ”bagus kalau lo sadar! Mungkin elo gak tahu, tapi jujur aja, gue kecewa banget waktu elo nolak Ries. Padahal gue selalu bantuin elo pe-de-ka-te sama dia, tapi pas pe-de-ka-te lo berhasil, elo malah nolak dia. Sekarang elo nikmatin aja perasaan lo!”


            ”kok elo ngomong kayak gitu sih?! Iya gue tahu gue salah. Gue minta maaf, Den.”


            “maaf?! Kalau lo mau minta maaf bukan sama gue tapi sama Ries! Tapi gue rasa semua udah terlambat. Ya udah, sekarang gue mau makan dulu. Oh iya, jangan lupa ke kantin besok pas istirahat!” setelah itu, sambungan telepon terputus.


            Penglihatanku membuyar. Aku dapat merasakan air mata yang mengalir perlahan. Kepalaku terasa pusing. Badanku lemas sekali. Sepertinya besok aku tidak kan ada disekolah. Setelah semua yang hilang, rasanya aku juga ingin menghilang.


***

6 komentar: