PEKAN PENGENALAN KEHIDUPAN KAMPUS
0leh : Maleawan Basuki Soeraryo
Memasuki semester
Dalam kepanitiaan PPKK kali ini, hampir semua unit kerja diketuai oleh teman-teman mahasiswa semester
Wah sial, aturan apa ini, gak logis, gak nalar, gak masuk akal, bagaimana ketua ini, gerutuku didalam hati dan memang aku cuma berani menggerutu didalam hati. Dimana-mana masa seperti ini bagi mahasiswa adalah masa melampiaskan kejatuhan cintanya. Perhatikan saja perilaku mereka, yang semula kuliah saja tidak pernah datang dengan seribu macam alasan, tiba-tiba menjadi begitu rajin datang dan selalu menenteng buku tebal entah apa judulnya seolah-olah menjadi mahasiswa yang paling pandai dengan IP diatas empat. Mereka yang biasanya berpakaian paling kusut, sekarang bak selebritis yang mamerkan pakaian model terbarunya. Bahkan mereka yang semula tidak pernah bisa dihubungi ponselnya karena memang tidak punya, sekarang tiba-tiba sambil mondar-mandir didepan kumpulan mahasiswa baru, menjadi senior yang paling sibuk membuka-tutup ponsel barunya, yang entah pinjam atau sewa dari siapa, seolah-olah Rektor dan seluruh Dekan secara bergantian meneleponnya.
Harus aku akui, bahwa ada kebanggaan tersendiri menjadi anggota panitia semacam ini, dan yang paling berkesan adalah pada saat diperkenalkan oleh ketua panitia, disebutkan nama, dipersilakan berdiri, disebutkan semester yang diikuti, bahkan kadang-kadang disebutkan juga IP terakhir yang diperoleh sebagai wujud “bonafiditas” seorang senior yang layak dan sangat pantas memberikan arahan pada mahasiswa baru, waaah ……..rasanya seperti terbang melayang keangkasa, karena bersamaan dengan itu semua mata mahasiswa baru yang hadir bergerak dan menatap dan terfokus padaku, eeeh….. .. eeeh ….. nggak ada taranya, gak ada taranya, gak ada bandingannya. Dalam situasi seperti itu, tanpa sadar kepalaku terangkat mendongak keatas, kemudian mengangguk dan tersenyum seraya menengok kekiri dan kekanan. Terlihat olehku binar mata mereka yang kagum, bahkan terasakan olehku detak jantung mereka yang semakin kencang karena terpesona hebat, uuh…… huebaaat deh pokoknya.
Memang rasa-rasanya mereka menjadi sangat kecil dimataku, mahluk-mahluk yang baru datang dikampusku, mahluk yang sehari-hari berseragam putih abu-abu, yang lebih banyak berteriak-teriak atau cekikikan dalam berkomunikasi dengan sesamanya, komunikasi yang masih sangat primitif menurut ukuranku sekarang. Mereka yang hanya pandai berbincang dengan sesamanya tentang sinetron yang sama-sama ditontonnya, sehingga menurutku tidak ada kualitas diskusinya. Bagaimana bisa disebut diskusi kalau semua berpendapat yang sama, saling mengiyakan tentang cerita dan peran yang dimainkan oleh favorit mereka yang sama pula orangnya. Norak, norak pokoknya noraaaak.
Jadi benar, sekali lagi benar, tidak salah ada PPKK, karena ini tempat untuk menempa mereka, tempat yang paling awal bagi mereka belajar menjadi manusia yang mampu berpikir rasional, manusia yang bisa berkomunikasi tidak dengan teriakan atau cekikikan tetapi dengan kalimat yang jelas dan santun, manusia yang mengenal sesamanya secara utuh, manusia yang berbudaya,……. tapi, …… aku tepekur sejenak, tapi ada juga yang aneh dari pikiranku tadi jika dibandingkan dengan kenyataan yang ada. Memasuki semester lima, rasa-rasanya akupun belum berhasil menjadi manusia berbudaya, aku masih sering juga berteriak-teriak, sering juga melecehkan bahkan mengumpat, bahkan lebih dari itu, merusak pagar orang, membakar ban ditengah jalan bahkan kadang mobil orang juga terbakar karena …….memang bermula dari bannya yang dibakar. Tapi itukan kalau sedang demo, demo dan demopun selalu didahului dengan diskusi-diskusi yang menurutku sangat ilmiah dengan senior-seniorku bahkan alumni kampusku, walaupun yang sering mengajak diskusi atau yang kupilih untuk diskusi adalah orang-orang yang selama ini memang kurang suka dengan pemerintah. Lha kalau dengan yang pro pemerintah
Pelaksanaan PPKK berjalan lancar, selancar-lancarnya, tidak ada hambatan, karena sudah berjalan belasan tahun dengan pola dan ukuran keberhasilan yang sama yaitu mahasiswa baru dapat dibuat terpaku diam terpesona, mahasiswa baru ketakutan, kebingungan dan menangis terharu. Berhasil jika suatu acara bisa membuat para mahasiswa baru terpaku diam, karena ketua panitia PPKK mampu memberikan ceramah pembekalan tentang manusia kampus yang sesungguhnya dengan gaya orator ulung, kemudian terlihat ketakutan karena tiba-tiba acara terpenggal dengan adanya sekelompok senior dengan pita merah dilengannya yang menandakan mereka dari seksi disiplin memanggil dengan suara keras dan menyuruh keluar beberapa mahasiswa baru peserta PPKK dengan alasan tidak serius mengikuti acara tersebut atau alasan-alasan lain yang tidak boleh dibantah, sampai terjadinya kebingungan diantara mahasiswa baru karena dalam waktu lima belas menit diminta mencari korek api cap satu setengah durian, atau mereka diminta memakai sepatu kembali dalam waktu lima menit, padahal sepatu mereka sudah ditukar-tukar oleh para senior, bahkan puncak ukuran keberhasilan acara dinilai dengan banyaknya peserta yang menangis diakhir acara karena trenyuh, terharu harus mengakhiri kegiatan dan berpisah dengan acara tersebut. Walaupun untuk acara tangis menangis ini seksi acara sudah pasang banyak senior perempuan beseragam mahasiswa baru untuk pura-pura sedih dan menangis untuk memancing emosi, bahkan untuk maksud ini karena takut gagal, panitia sempat pula mendatangkan beberapa pemain sinetron hanya untuk menangis dan .......entah dibayar berapa mereka, tapi yang jelas pengeluaran yang terbanyak biasanya disini.
Tapi kalau mau jujur sesungguhnya yang bersedih dengan berakhirnya acara seperti itu memang ya para senior itu. Yang semula terlihat lusuh ya kembali lusuh, yang pembolos ya semakin jadi pembolosannya dan mungkin yang paling sedih adalah mereka yang sewa ponsel untuk nampang dan tidak tahu harus bayar pake apa. Mboh ora ngerti, teuing teunyaho, yang jelas panitia tidak menyediakan anggaran sewa ponsel untuk nampang, titik.
Jakarta, Agustus 2008.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar