Syukur
Oleh : maleawan basuki suraryo
Matahari terbit seperti biasanya, belum sepenggalah, cahaya kekuning-kuningan, terang benderang, menyilaukan mata. Pagi yang cerah. Terlihat beberapa gumpalan awan putih disana sini, namun tidak mengganggu keanggunan birunya langit pagi itu. Angin pagi semilir meratakan hangatnya suasana seakan alam akan mengatakan bahwa hari ini akan sama hangatnya dengan kemarin dan hari-hari yang lalu. Peristiwa yang terjadi kemarin akan sama dengan peristiwa yang terjadi sekarang bahkan besok, tidak ada yang aneh dan tidak perlu heran. Semua berjalan sesuai dengan kodratnya.
Walaupun tidak aneh dan tidak mengherankan, namun suasana hatiku tidaklah sehangat suasana pagi itu. Sudah berhari-hari, hatiku gundah dan hampir tidak tertahankan. Kejadian itu memang sudah kuduga akan segera datang, walau aku atau semua orang mungkin tidak menghendakinya. Kejadian yang merupakan kodrat atau takdir manusia, karena konon tidak satupun mahluk hidup bahkan manusia yang perkasa sekalipun tidak mungkin tidak mengalaminya.
Lebih dari dua minggu aku menjadi pendamping yang benar-benar pendamping. Karena selama itu aku hampir-hampir tidak pernah meninggalkannya kecuali jika aku harus sholat atau perlu kekamar kecil, bahkan makanpun aku berada disebelahnya. Aku berusaha tidak lepas untuk terus memperhatikan keadaannya dan aku terus berusaha berdoa untuknya. Dalam doaku, aku memang memohon pada Tuhan berilah yang terbaik bagi dirinya dan bagi diri kami, dan akupun memohon jika saat itu datang hendaknya jangan ada kesedihan yang berlebihan. Tampaknya doaku dikabulkanNya.
Saat itu datang dan benar , walaupun suasana dirumah memang berubah menjadi sangat sibuk, banyak sekali orang datang, hilir mudik, lalu-lalang, namun memang hampir tidak ada suara tangis, walau terlihat beberapa orang mengucurkan air mata dan sedikit terisak menahan tangis, ada pula yang terdiam merenung atau menundukan kepala atau menutup matanya dengan kedua belah tangannya. Namun aku tidak mendengar orang menangis keras. Aku justru melihat dan merasakan adanya aura ketegaran bahkan kebanggaan didalam rumahku.
Sejak semalam aku belum tidur sama sekali, telapak tanganku hampir terasa kebal karena banyaknya orang menyalamiku. Berulangkali para kerabat menganjurkan aku untuk tidur atau sekedar merebahkan badan walau barang sejenak, namun aku tidak bisa. Baru pagi ini, aku merasa agak lelah. Aku minta pada anak-anakku, untuk tidak diganggu karena aku ingin menyediri barang sebentar di serambi belakang rumahku. Aku termenung, aku berusaha terus berdzikir walau sering terputus-putus, pikiranku menerawang jauh kebelakang. Diserambi ini kami berdua sering berbincang tentang segala hal, tentang anak-anak, tentang kekhawatiranku akan masa depannya, tentang masalah pekerjaan dan keadaan dikantornya yang sulit diprediksi, sampai kepada masalah kemasyarakatan dan masa depan negeri ini.
Aku masih ingat benar kata-katanya yang sering diucapkan jika kami mengakhiri perbincangan “ sudahlah mah kita ini seperti kurang yakin dengan kemurahanNya “ atau “mah, kita ini sepertinya kurang mensyukuri nikmatNya” Biasanya sambil mengucapkan kata-kata itu dia menarik tanganku, merangkulku dan beranjak masuk kedalam rumah.
Terlintas dalam ingatanku, sewaktu untuk pertamakali kami dapat kesempatan memasuki rumah ini. Terlihat diwajahnya ada perasaan senang, berbinar-binar matanya. Jarang dan hampir tidak pernah aku melihat pemandangan seperti itu. Sepanjang yang aku ingat wajah itu hampir tidak pernah menunjukan perbedaan antara senang dan susah, sama saja, datar dan tenang. Dikelilinginya rumah, dimasukinya semua ruang dan kamar. Dipandanginya setiap sudut ruang dan halaman. Rumah yang menurut ukuran kami cukup lapang, dengan tiga kamar tidur besar dan satu kamar pembantu, ruang tamu, ruang makan atau ruang keluarga dan serambi belakang disamping masih ada garasi dan halaman cukup luas, maklum rumah peninggalan Belanda. Walaupun bukan rumah pribadi dan saat itu banyak bagian rumah yang perlu diperbaiki, namun kami senang, karena dari sekian kali kami pindah dari rumah dinas yang satu kerumah dinas yang lain, tampaknya baru kali ini, kami merasa nyaman dan justru diserambi belakang rumah ini pula kami pertama kali mencoba duduk bersama sambil mengamati ketiga anak kami yang berlari-lari kian kemari seakan ingin mengukur besarnya halaman belakang rumah baru kami.
Tiba-tiba anganku berpindah jauh kebelakang, kebeberapa puluh tahun yang silam. Masih jelas ingatanku. Sore itu aku sedang diberanda rumah, sebuah mobil jip warna hijau kusam memasuki halaman rumah kami. Seorang letnan dua, perwira pertama angkatan darat, tidak tampan bahkan kulitnya agak gelap namun terlihat sangat gagah dimataku, turun dari mobil tersebut, berjalan menghampiri dan menyapaku dengan salam serta menanyakan alamat seorang perwira tinggi yang tidak lain adalah ayahku. Ada sedikit rasa terkejut, terkesima dan senang pada waktu itu. Spontan aku berdiri, membalas salam dan mempersilakannya duduk, kemudian aku masuk kedalam untuk memberitahukan pada ayahku.
Semenjak itu pertemuan kami memang menjadi sangat sering, maklum perwira pertama tersebut kemudian menjadi ajudan ayahku dan sering tidur dipaviliun rumah kami. Aku menjadi semakin mengenal pribadinya. Dia memang dididik untuk cekatan dan tegas dalam bersikap, namun aku merasakan kelembutan dan kesabaran hatinya. Dan mungkin ini yang kemudian menjadikan aku lebih memperhatikan dan bahkan tertarik kepadanya. Hanya kurang dari tiga tahun ia berkumpul dengan kami, karena selanjutnya ia lebih banyak berada di luar Jawa untuk melaksanakan tugas-tugasnya.
Anganku terputus sejenak, karena ada beberapa orang menggotong perabotan rumah melintas didepanku. Aku berusaha merangkai kembali anganku yang terputus. Aku masih ingat betul waktu ia berpamitan, bukan kata pamit yang ia ucapkan tetapi ia menyampaikan lamaran padaku ” Lis...., maaf kalau aku tidak sopan, tapi aku tidak tahu harus mengatakan apa, aku melamarmu untuk menjadi isteriku, mau ya Lis.....?” Aku tidak menjawab, aku bingung, tiba-tiba badanku serasa lemas, jantungku berdebar-debar, walaupun kuakui bahwa ada rasa bahagia yang tiada tara waktu itu. Dia tampaknya memahami keadaanku, selanjutnya sambil mengulurkan tangan menyalamiku dia mengatakan ” Tidak usah dijawab sekarang Lis, kapan-kapan saja dan kalau setuju, aku nanti akan menghadap Bapak” Entah seperti apa wajahku waktu itu, semburat merah atau bahkan pucat, yang jelas sampai ia membalikan badan meninggalkanku, aku masih berdiri tertegun.
Matahari semakin tinggi, sinarnya yang semula kekuning-kuningan sudah berubah menjadi putih menyilaukan mata. Namun langit tetap biru, angin bertiup semakin kencang mengoyang ranting-ranting pohon pinus didepan rumahku, gumpalan awan putih bagaikan gunung kapas bergerak mengular, tampak lebih banyak dari semula.
Ada rasa hangat dipelupuk mataku, kembali aku berdzikir, aku berusaha untuk tidak menangis, aku berusaha mengelola hatiku, pikiranku, merubah kesedihanku menjadi kebanggaanku kepadanya. Sesungguhnyalah aku memang patut bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Karena sepanjang hidupku mendampinginya tidak pernah aku merasa dikecewakannya. Dia bagiku adalah karunia Tuhan yang tiada taranya. Dia memang bukan tipe pria yang romantis, bahkan tidak pernah dia menyanjung-nyanjungku, tapi keseharian dia memberikan rasa aman, tenang, tentram dan senang kepadaku. Dalam situasi sulit seperti apapun aku tidak pernah mendengar dia mengeluh berlebihan. Malahan aku ingat kata-katanya sewaktu menasihati anak sulung kami, yang menangis karena gagal memasuki SMA faforit dikota kami, dia mengatakan ”Mas, jangan kamu menangis karena kamu gagal, atau karena kamu mengalami kesulitan, tapi menangislah kalau kamu melihat temanmu mengalami kesusahan”
Anganku terputus kembali, kali ini karena anakku sisulung mendatangiku, membungkuk didepanku dan dengan pelan mengatakan bahwa Presiden sedang dalam perjalanan dan akan segera hadir melayat, aku dimintanya kembali keruang dalam untuk menyambut. Dengan berpegangan pada lengan anakku aku berdiri. Sejenak kami berdiam diri, kupandangi anakku, aku terkesiap bukan karena mendengar Presiden akan hadir tetapi aku melihat sosok anakku dalam pakaian dinas upacara militer dengan bintang dua dipundaknya, persis....., seolah-olah aku berhadapan dengan ayahnya. Tangan anakku kemudian merangkulku dan membimbingku memasuki ruang dalam. Aku kembali merasakan itu........, aman, tenang, tentram. Aku tidak ingkar, aku memang sedih, berduka karena ditinggal pergi oleh orang yang sangat aku kagumi dan sayangi, tapi akupun sangat bangga atas apa yang telah pernah aku alami selama ini. Karena itu aku harus lebih banyak bersabar atau tepatnya bersyukur atas apa yang pernah aku peroleh ini. Betapa Tuhan sangat menyayangiku.
Terlihat semakin banyak gumpalan awan putih, berderet-deret seperti berbaris dan bergerak dalam parade, sementara angin masih terus berembus menggoyang-goyangkan ranting dan daun pinus didepan rumah, bagaikan umbul-umbul yang berkibaran, seolah semuanya memberikan penghormatan terakhir..........
Jakarta Juli 2008.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar