Rabu, 09 Mei 2007

Beratnya Menjadi Pemimpin

Assalamualaikum


Beratnya Menjadi Pemimpin


 


Perlombaan untuk menjadi seorang pemimpin, seperti sudah menjadi angin tak berudara bagi banyak orang. Sudah begitu wajar rasanya melihat usaha beberapa orang untuk mendapatkan sebuah gelar  seperti ketua, pemimpin, kepala,  dan gelar lain semacamnya. Bukan hanya kabar burung bahwa para penyandang gelar itu akan mendapatkan kehormatan, kekuasaan, dikenal, rasa bangga karena dipercaya, kemudahan dalam menjalankan buah pemikirannya, dan juga keuntungan lainnya baik yang berupa material hingga nonmaterial.


            Padahal, begitu banyak beban dan tanggung jawab yang mesti dipikul oleh seorang pemimpin seperti amanat akan program-program yang dijalani, tuntutan yang hampir tak pernah habis, hingga kritik-kritik yang rasanya tak pernah mati. Selain itu, sebagai seorang pemimpin, tentunya ada begitu banyak ladang dosa. Seandainya iman seorang pemimpin mudah goyah, maka dengan mudah ia akan tercebur kedalam ladang dosa itu.


            Sudah pasti, waktu dan tenaga seorang pemimpin akan menjadi lebih padat dari sebelumnya. Berkurangnya waktu istirahat dan kelelahan dapat menyebabkan seseorang menjadi sakit. Kurangnya waktu untuk refreshing juga dapat menyebabkan stress. Waktu untuk berkumpul bersama keluarga yang tidak cukup juga dapat menyebabkan timbulnya masalah baru seperti kesalahpahaman. Belum lagi beban mental yang didapat karena adanya ketakutan akan hasil kepemimpinan yang tidak baik. Semua itu mungkin mendera para manusia yang dinamanya tersandang gelar-gelar pemimpin.


            Setelah semua upaya, pengorbanan akan waktu, pengorbanan akan pemikiran dan pengorbanan lainnya dikerahkan oleh seorang pemimpin, masih saja ada protes-protes pedas yang pada dasarnya memiliki tujuan baik. Berkaca pada realita yang ada, satu saja kesalahan kecil dari seorang pemimpin dapat menyebabkan seluruh orang yang dulu mengusungnya langsung memalingkan muka darinya dan mencari tokoh lain yang dianggap lebih baik. Jangankan orang yang mengusungnya, persaingan yang ada untuk saling menjatuhkan itu begitu nyata. Ribuan cara diusahakan untuk merebut tahta kepemimpinan yang penuh dengan keuntungan dan juga kerugian.


            Mungkin memang benar ada pemimpin-pemimpin yang melakukan kesalahan-kesalahan fatal dan tidak beralasan. Mereka memang perlu diberi peringatan lewat teguran, atau cara lain yang lebih dianggap ampuh seperti demonstrasi sampai penurunan jabatan. Hal ini dianggap perlu mengingat luasnya ladang dosa yang mengitari sang pemimpin. Namun, melihat dari sisi lainnya pula, nilailah sesuatu dari dua sisi yaitu, penyebab (alasan suatu keputusan diambil) dan dampaknya (hasil positif dan negatif dari keputusan yang diambil).


            Masyarakat memang memegang peranan yang penting dalam suatu sistem. Karena masyarakatlah yang nantinya akan merasakan hasil dari sebuah kepemimpinan. Oleh karena itu, kerjasama dan rasa saling percaya dalam suatu sistem dapat membantu mewujudkan suatu cita-cita bersama. Mungkin, untuk para pemimpin bisa mencoba untuk lebih berhati-hati, jangan sampai nyebur dan tergiur untuk nyebur ke ladang dosa. Nah, kalau untuk para pemerhati sistem, mungin bisa dicoba untuk melihat segala sesuatunya dari dua sisi (penyebab dan dampak), serta tumbuhkan rasa saling percaya. Kritiklah apa yang patut dikritik dan berikan solusi yang sesuai dengan keinginan masyarakat.


            Mohon maaf bila ada kesalahan. penulis masih dalam tahap belajar dan Insya4Wl masih akan terus belajar. Oiya, kritik dan saran wisda nantikan lhow,,he”,,


Trims b4,,,


            Tetap semangka (Semangat Kawan).


Wassalamualaikum


(Wisda Prasparani)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar