Selasa, 15 Mei 2007

Cerita seruw,,

KEMARAU


                                         Oleh : Maleawan Basuki Suraryo


 


  


Tidak banyak yang tahu kapan Perguruan Al Mukmin didirikan bahkan para santri, siswanya sendiri, juga tidak banyak yang paham mengapa perguruan ini didirikan  jauh ditengah pedalaman pulau Jawa, ditempat yang sulit djangkau karena tidak ada jalan besar yang menuju kesana, yang ada hanya jalan setapak yang hanya bisa dilalui pejalan kaki.  Cerita yang beredar dari mulut kemulut perguruan ini konon didirikan oleh salah seorang keturunan Prabu Brawijaya dari kerajaan Majapahit yang memeluk agama Islam dan mengundurkan diri dari lingkungan keraton serta memilih menjadi guru ngaji keliling dari dusun kedusun sekitar kerajaan yang kemudian dengan para santri pengikutnya menetap diperbukitan Papringan Ijo dan mendirikan perguruan Al Mukmin.


 


Perguruan Al Mukmin sendiri selintas tidaklah istimewa, komplek perguruan tidak terlalu luas dan hanya berisi beberapa bangunan sederhana yang terbuat dari kayu dan bambu. Bangunan-bangunan yang ada umumnya digunakan untuk ruang kelas dan tidur para santri atau siswa perguruan. Beberapa bangunan lebih kecil digunakan sebagai tempat tinggal keluarga para ustad atau kyai yang mengasuh dan mengajar siswa. Selain itu sudah tentu terdapat masjid yang cukup besar.


  


Entah sudah keturunan yang keberapa, para ustad atau Kyai yang memimpin dan menjadi pengajar diperguruan ini. Namun yang jelas cerita tetang asal-usul perguruan itu telah menarik perhatian berbagai pihak. Banyak cerita dikalangan masyarakat didusun-dusun sekitar perguruan yang mengabarkan tetang banyaknya tokoh masyarakat, para pengusaha, politisi bahkan pejabat pemerintahan yang dengan susah payah datang keperguruan ini bukan untuk ngangsu kaweruh, menimba ilmu, menjadi siswa, namun sekedar ingin bertemu sesepuh perguruan  untuk memohon petunjuk tetang berbagai permasalahan sekitar kehidupan mereka, tentang usaha mereka, tentang masa depan mereka bahkan tetang peluang mereka dipemerintahan negeri ini.


 


Kemarau panjang tahun ini seakan tiada ingin berakhir, puluhan, ratusan bahkan mungkin ribuan sumur, mata air sudah lama kering. Sungai-sungai masih berkelok-kelok dan masih menyisakan sedikit air didalamnya, namun sudah tidak lagi memperdengarkan irama gemericiknya. Awan hitam walaupun  masih sering terlihat berarak-arak bagaikan parade pasukan yang siap berlaga dimedan perang, namun juga enggan mengucurkan hujan. Kemarau seakan ingin mengingatkan manusia agar mau bergiliran mengucurkan keringatnya untuk membasahi bumi, mengisi kolam, danau bahkan sungai-sungai menggantikan tugas mata air yang selama ini dilupakan bahkan dirusak bersamaan dengan perusakan lingkungan yang tiada taranya.


Dimalam hari, udara dingin bagaikan menusuk tulang, sepertinya ingin membuat beku semua mahluk yang ada dibumi, sangat kontras dengan panasnya udara disiang hari.


 


Beruntung bagi para penghuni perguruan Al Mukmin, mereka tinggal dilembah yang dipagari perbukitan Papringan Ijo. Letak yang baik, pemandangan yang indah, asri, dipenuhi dengan hutan bambu yang setiap saat mengalunkan irama merdu gesekan daun dan ranting-rantingnya, seakan alam memang ingin menunjukan kearifannya dengan menyisakan tempat yang paling nyaman dipersada ini yang tidak terpengaruh oleh dahsyatnya  kemarau yang teramat panjang. Udara panas ditempat lain tidak terasa disini, keringnya  mata  air ditempat lain tidak terlihat disini. Disiang hari masih terasa sejuk walaupun dimalam hari memang lebih dingin dari biasanya, sementara sungai-sungai disekitar lembah masih mengalirkan airnya yang jernih dengan cukup deras.                                                                                                 


 


Malam itu, dikomplek perguruan Al Mukmin seperti juga malam-malam sebelumnya seusai sholat Isya dan pengajian malam, para siswa mendapat tugas secara bergiliran untuk berjaga disekitar perguruan. Hampir setiap malam antara lima sampai tujuh orang siswa berjaga dengan dipimpin oleh seorang siswa yang paling tua atau dituakan. Sayup-sayup terdengar suara kentongan dari dusun tetangga,  seakan-akan gaungnya tidak sanggup menembus dinginnya malam.  


 


“Subhanallah, rupanya baru jam sebelas dimas, rasanya malam ini sangat panjang dan hening, suara adzan Isya dan pengajian para siswa rasanya sudah sangat lama berlalu ” ujar Marwoto lirih.


”Iya kangmas, dalam hati akupun merasakan hal itu, rasa-rasanya beberapa malam ini agak lain dari malam-malam sebelumnya, beberapa hari ini lebih dingin, mencekam dan agak seram kangmas” sahut Adhi yang dipanggil dimas tak kalah lirihnya.


”Malam ini berapa siswa yang bertugas ?” tanya  Marwoto, masih juga dengan suara pelan seakan pertanyaannya tidak ingin didengar oleh orang lain bahkan oleh serangga disekitarnya sekalipun.


”Malam ini kita rencananya berlima kangmas, Dimas Joko, Dimas Muhsin dan Kangmas Rahman berada dibelakang pondok sebelah selatan”


”Obor-obor penerang jalan sudah semua dinyalakan ?”


”Sudah-sudah kangmas, tadi selepas sholat Magrib sudah kuperiksa semua”


”Mari dimas kita kelilingi pondok-pondok ini sampai kehalaman depan, siapa tahu sambil berjalan agak jauh kita dapat mengusir rasa dingin”


”Baik kangmas mari saya antarkan ”


 


Berjalan mereka berdua perlahan sambil berbincang tentang berbagai macam masalah yang ada disekitar perguruan, tentang pelajaran yang diberikan pagi hingga sore tadi, yang menyangkut tentang tauhid, tentang keimanan, tentang kehidupan yang baik diantara sesama, sampai tentang keluarga–keluarga atau saudara mereka, tetap dengan suara yang pelan. Berjalan terus mereka  dari timur terus keutara, terkadang melalui jalan-jalan sempit disisi pagar pohon bambu apus yang sengaja ditanam mengelilingi komplek perguruan.


 


”Dimas pagarnya tampak sudah agak tinggi, mungkin perlu kita potong sedikit, agar tidak menutupi pemandangan kita kalau sedang berada diluar ruang pondok”


”Betul kangmas, sayang kalau kita tidak dapat menikmati pemandangan yang indah diluar sana, bukankah ini salah satu hiburan kita ?”


”Ya dimas, betul sekali, namun didekat saluran air tadi sedikit renggang pagarnya, mungkin perlu juga ditambal atau diganti dengan tanaman baru, supaya tidak keterlanjuran”


”Baik kangmas, besok aku akan ajak teman-teman para siswa untuk bersama-sama membetulkan pagar sekaligus memotong ujung-ujung pohon yang terlalu tinggi”


 


Kemudian mereka berjalan berbelok masuk  kedalam komplek perguruan, berjalan diantara bangunan-bangunan pondok, ruang tempat para siswa beristirahat, mengaji dan beraktifitas lain. Tanpa sadar mereka berdua  menghentikan percakapannya, mungkin  khawatir suara mereka mengganggu kenyamanan para siswa yang sedang beristirahat, tidur. Suasana menjadi hening, sepi, bahkan menjadi semakin senyap, suara gesekan daun dan ranting bambu atau bahkan serangga malam yang biasanya berisik bagaikan mengadu lantangnya suara diantara mereka atau  seolah-olah ingin menandingi suara siswa sewaktu berzikir, mengaji, atau bersholawat. Malam itu senyap tidak bersuara, hanya suara langkah mereka berdua yang terdengar. Entah apa yang sedang berkecamuk dalam benak mereka, sampai tanpa terasa mereka telah berada dilapangan agak luas didepan bangunan masjid yang berada disebelah barat komplek perguruan dan keheningan terpecahkan oleh  pembicaraan diantara mereka.


 


”Maaf kangmas, aku perhatikan beberapa hari ini tampaknya Eyang Guru, Kyai Sepuh tidak pernah terlihat, baik dipengajian-pengajian maupun pertemuan para ustad”    


”Iya dimas, betul, akupun sebenarnya sudah rindu untuk berbincang dengan beliau, rindu petuahnya, rindu juga gurauannya. Rasa-rasanya tidak ada yang sulit, semua menjadi mudah, tidak ada yang membuat rasa takut dan tidak ada yang menjadi aneh dalam kehidupan ini, kalau sudah berbincang dengan beliau”


”Kangmas Jati pernah cerita, kira-kira hampir sebulan yang lalu Eyang guru  kedatangan beberapa orang tamu, katanya orang-orang yang cukup terpandang dari Jakarta, dan ada pembicaraan yang sangat penting tampaknya diantara mereka, bahkan kangmas Jati mengatakan baru sekali ini Eyang Guru terlihat agak murung sewaktu mengantarkan tamunya pulang”


”Ya dimas akupun mendengar cerita itu, akupun sempat merenung dan memikirkan cerita itu dan ingin bertanya pada kawan-kawan para ustad, tapi kuurungkan, karena aku pikir jangan-jangan aku berburuk sangka”


”Kangmas sambil ngobrol mari kita duduk diberanda masjid”


”Mari dimas”


 


Mereka berjalan berdampingan menuju masjid yang dibangun sederhana namun berdiri dengan kokohnya. Kembali hening, namun pasti keduanya masih terangsang untuk memikirkan keadaan Eyang Guru dan apa yang terjadi pada waktu kedatangan tamu dari Jakarta itu.


Sambil berjalan, Marwoto mebetulkan letak sarung yang melingkari badannya, kemudian dilepas ikatannya, ditarik dan diangkatnya sarung tersebut  menutupi leher dan kepalanya untuk mengurangi rasa dingin.


 


Bulan sabit belum terbit atau enggan memperlihatkan wajahnya yang tidak sempurna,  sementara bintang gemerlap dilangit yang hitam pekat, cahayanya redup tidak sanggup menerangi bumi. Bahkan cahaya obor yang sengaja dipasang diujung-ujung lorong dan lampu-lampu tempel yang dipasang pada tiang-tiang  penyangga masjid terlihat suram, seperti ada kabut yang turun dan menghalangi cahaya-cahaya tersebut.


Kembali terdengar sayup-sayup kentongan dari dusun tetangga. Suara kentongan yang malas, semalas para serangga malam yang enggan memperdengarkan suara bisingnya, saat itu. Atau mereka semua sedang dalam satu hati dengan alam sekitar dengan para kyai, ustad dengan para siswa, santri perguruan  yang prihatin karena memikirkan ketidak hadiran Eyang Guru dalam beberapa waktu ini dengan tanpa mengetahui penyebabnya.


 


”Disebelah sini Kangmas, dibawah lampu tempel ini, agak nyaman, agak hangat, rindangnya daun pohon sawo kecik ini rupanya sedikit dapat menahan kencangnya angin lembah” tutur Adhi memecah kebisuan diantara keduanya.


”Terimakasih Dimas, agak nyaman disini”


”Kentongan tadi kalau tidak salah dengar menandakan jam dua kangmas, berarti tidak lama lagi masjid akan mulai dipenuhi siswa untuk sholat malam, tahajud”


”Alhamdulillah, kiamulail, berarti sudah mendekati waktu subuh dimas, entah mengapa aku memang berharap malam ini cepat berlalu. Aku ingin segera bertemu dengan para ustad sepuh untuk menanyakan keadaan Kyai Sepuh, Eyang Guru dan aku ingin.......”


Belum sempat Marwoto mengakhiri bicaranya, tiba-tiba terdengar suara berderit, gesekan  pintu masjid dibuka orang.


 


”Assalamualaikum”


”Walaikum mussalam warohmatullohi wabarokatuh” hampir bersamaan Marwoto dan Adhi menjawab salam orang yang keluar dari dalam masjid yang gelap.


” Kyai Sholeh apa kabar?” ujar Marwoto bergegas menghampiri menyambut dan mengulurkan tangan menyalami sambil mencium  tangan orang yang dipanggil Kyai Sholeh. Demikian juga kemudian Adhi tidak kalah sigapnya menyambut , menyalami dan mencium tangan Kyai Sholeh.


”Alhamdulillah, keadaanku baik, kalian sedang berjaga, anakmas ?”


”Benar kyai, walaupun sebenarnya bukan giliran kami, namun kami sengaja membantu teman-teman siswa berjaga, daripada didalam pondok, kami juga agak sulit tidur akhir-akhir ini” ujar Marwoto mencoba menjelaskan.


”Silakan duduk kyai” ujar Adhi, memberi tempat didepannya dan kemudian mereka bertiga duduk berhadapan.


 ”He he he kalian rupanya sudah ketularan orang kota, sulit tidur, maunya bergerak terus, bekerja tidak kenal waktu atau mendengarkan musik yang suaranya keras..............untung


kalian disini, suara musik yang sehari-hari kalian dengar cuma suara  jangkrik, walang, yang diiringi suara gesekan daun bambu dan gemericik suara air sungai dan sekali-sekali burung malam”


”Iya, iya kyai kadang-kadang kalau dipondokan ditambahi suara dekuran kangmas Yusril dan dimas Ragil yang saling berlomba keras, kheeer, kheeer, kheer, khrook,khrook, hehe hehe......hehe...hehe...”


 


Tertawa terkekeh-kekeh mereka bertiga diberanda masjid, sejenak lupa dengan apa yang berhari-hari mereka pikirkan. Obrolan dilanjutkan dengan membicarakan  masalah-masalah ringan sekitar kehidupan diperguruan. Kekocakan tingkah laku para santri, siswa perguruan menjadi pembicaraan mereka. Berulang kali terdengar tawa segar mereka bertiga, walaupun tidak sampai terbahak-bahak. Menurut Kyai Sholeh, Kyai Sepuh pernah mengatakan bahwa mengajar atau menjelaskan sesuatu masalah perlu dengan cara yang mudah dimengerti, mengingat tingkat kecakapan atau kecerdasan para santri tidak sama, selingan gurauan didalam mengajar menjadi penting karena ini akan menjadi alat pengingat bagi santri.


 


Obrolan santai mereka sontak terhenti, ketika Marwoto kemudian menanyakan keadaan Kyai Sepuh, Eyang Guru mereka. Kyai Sholeh terdiam sesaat, menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Terdengar lirih ia beristigfar berulang kali dan mengucapkan kata-kata yang mengagungkan Tuhan.


 


”Mohon beribu-ribu maaf kyai, kalau kelancangan pertanyaan kami membuat kyai tidak berkenan dan membuat kyai bersedih hati” cepat-cepat Marwoto menyampaikan permohonan maaf, sejenak setelah ia melihat perubahan raut muka Kyai Sholeh.


”Oh tidak apa-apa, tidak apa-apa ngger anakmas Marwoto dan anakmas Adhi, kami para ustad sepuh sudah  memikirkan, cepat atau lambat para ustad atau para santri pasti akan menanyakan masalah tersebut. Kebetulan kalian anakmas yang pertama kali bertanya padaku”


 


Kemudian suasana hening kembali terjadi, bahkan lebih hening, lebih sunyi, malam menjadi semakin gelap, bintang-bintang yang semula terlihat berkedip-kedip dengan malasnya kini tidak tampak, hilang sama sekali dari pandangan. Awan hitam tebal menaungi langit sekitar perbukitan Papringan Ijo. Marwoto dan Adhi menundukan kepalanya seraya beristigfar berulang-ulang.  Marwoto  menyesali diri, karena gara-gara pertanyaan itu ia telah membuat sedih gurunya, Kyai Sholeh. Namun selintas dalam pikirannya, kalau hal itu tidak ditanyakan rasa-rasanya sesak dada ini dan akan pecah kepalanya memikirkan masalah itu. Kemudian keheningan dipecahkan oleh suara Kyai Sholeh.


 


”Anakmas berdua, aku paham betul apa yang berkecamuk didalam hati dan pikiran kalian, oleh karena itu aku akan menjelaskan secara selintas saja dan aku berharap ceritaku tidak membuat kalian dan para santri menjadi cemas secara berlebihan”


 


Hening sejenak, kemudian Kyai Sholeh melanjutkan....


”Anakmas berdua mungkin sudah mendengar kabar kanginan atau desas-desus, tentang banyaknya tamu yang berkunjung ke perguruan kita akhir-akhir ini. Mereka berdatangan silih berganti, ada yang dari Surabaya, Solo, Bandung bahkan dari Medan, dari Sulawesi dan Jakarta dan entah dari mana lagi aku tidak hapal”


 


Kembali Kyai Sholeh menarik napas dalam-dalam, kembali terdengar seakan berbisik ia beristigfar berulangkali, kemudian sambil memperbaiki letak duduknya ia meneruskan....


 


”Macam-macam cerita yang mereka sampaikan pada Kangmas Guru, tapi umumnya masalah ruwetnya negeri ini, tidak majunya perekonomian negeri ini dan buruknya pelayanan dan pemerintahan negeri ini. Intinya menurut mereka, perlu ada perubahan dan mereka siap melakukan perubahan tersebut”


”Mendengar cerita-cerita mereka bagaimana sikap Eyang Guru, kyai?” secara tidak sadar Marwoto memotong cerita Kyai Sholeh, tidak sabar.


”Kangmas Guru, seperti biasa ia dengan sangat sabar mendengarkan cerita tamunya, namun kemudian ia menanyakan apa hubungan semua itu dengan perguruan Al Mukmin atau dengan dirinya. Tamu-tamu tadi umumnya meminta Kangmas Guru untuk mendukung keinginan mereka, terutama yang berasal dari Jakarta, mereka berulang kali menyatakan bahkan ada kesan sedikit memaksa”


”Mendukung bagaimana Kyai?” kini Adhi yang tidak sabar.


”Iya, Kangmas Guru mempertanyakan hubungan dirinya dengan keinginan dari orang-orang itu. Kangmas Guru menyatakan dirinya tidak memiliki kemampuan apa-apa selain mengaji itupun dengan ilmu yang sangat terbatas. Kalau kemudian diminta mendukung, mendukung dalam bentuk apa. Namun pertanyaan Kangmas Guru itu rupanya membuat gusar. Tamu dari Jakarta itu kemudian mengatakan Kangmas Guru sebagai pura-pura tidak tahu, dan dianggapnya tidak setuju dengan keinginan mereka”


”Kalau ceritanya seperti itu Kyai, keinginan mereka itu terlalu berlebihan, atau mungkin yang dimaksud mendukung itu, kita harus memberi sejumlah uang atau barang berharga yang bisa dijual untuk membiayai keinginan mereka, atau kita seluruh penghuni perguruan ini harus mengikuti mereka, mengawal mereka dan pindah ketempat mereka dikota atau...... ah aku tidak mengerti” ujar Marwoto mencoba mencerna cerita kyai Sholeh dan menyampaikan pikirannya.


”Anakmas, kalau yang dimaksud dukungan seperti itu, juga tidak masuk akal, kita tahu perguruan ini sejak dulu, sejak leluhur kita menghuni disini sampai jaman kita sekarang, tidak pernah mengumpulkan uang, para siswa santri yang datang tidak pernah kita pungut bayaran, karena kita juga kadang-kadang tidak tahu mereka datang dari mana, anak siapa


dan seterusnya. Makan kita selama ini juga hanya mengandalkan sawah, ladang dan kebun yang ada disekitar perguruan, tidak berlebih namun Alhamdulillah, Allah Maha Besar, Allah Maha Agung, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kita tidak pernah kekurangan”


 


Kemudian mereka bertiga terdiam, kembali lagi hening. Malam terasa semakin gelap, embun pagi kali ini benar-benar telah melingkupi kawasan lembah perbukitan Papringan Ijo,  udara menjadi semakin dingin ditambah angin lembah yang semakin kencang bertiup. Obor-obor penerang jalan disekitar  perguruan bergoyang-goyang kencang, beberapa diantaranya sempat padam.


 


”Aku memang sempat juga berpikir, bahwa bukan itu semua yang mereka cari, mereka orang kota pasti jauh lebih berada, lebih kaya dibandingkan kita, ada sesuatu yang diluar nalar orang biasa yang mereka cari, sesuatu yah sesuatu, sesuatu yang dapat memperkuat keyakinan mereka, sesuatu yang ......... .. gaib”


”Sesuatu yang gaib Kyai ?” Adhi sertamerta memotong pembicaraan Kyai Sholeh, agak kurang sopan.


”Ya sesuatu yang sulit dipahami nalar orang kebanyakan........”


” Apakah berkaitan dengan berita-berita diluaran sana, yang menyatakan bahwa Eyang Guru dikenal sebagai kyai yang mumpuni, yang weruh sakdurunge winarah, yang mampu melihat sesuatu yang belum terjadi, yang konon doanya mampu menembus tujuh lapis langit sekalipun, yang ................................”


 


”Assalamualaikum”


Belum sempat Adhi melajutkan pembicaraannya, tiba-tiba mereka bertiga dikejutkan oleh salam seseorang, yang tidak terdengar langkahnya, yang tidak terlihat bahkan tidak disadari kedatangannya, tiba-tiba sudah berada didekat mereka. Serta merta mereka bertiga berdiri dan menjawab salam hampir bersamaan


 


”Walaikumussalam warohmatulohi wabarokatuh” bergegas mereka bertiga turun dari beranda masjid dan menyalami sambil mencium tangan orang yang baru datang tadi.


”Subhanallah, apa kabar Kangmas Guru, kita lama tidak berjumpa, kami rindu sekali, sehingga sepanjang malam ini kami memang sedang membicarakan Kangmas Guru”


”Alhamdulillah, aku baik-baik saja kok, syukur kalian ada disini, aku ingin menengok musholla yang dipinggir sungai dibawah pohon randu alas itu, sudah lama aku tidak kesana”


”Silakan Kangmas Guru, kami akan antarkan”


”Tidak usah Dimas Guru, aku akan sendiri saja kesana, aku tidak akan lama, sebelum habis waktu subuh Insya Allah aku sudah kembali, tolong Anakmas Adhi aku dipinjami obor,  oborku agak kurang minyak rupanya, redup nyalanya”


”Baik Eyang, kami ambilkan”


 


Cepat Adhi begerak, setelah menerima obor dari Eyang Guru, dengan setengah berlari, ia menuju arah jamban masjid dan kemudian meraih obor yang berada didekat kulah tempat wudhu dan segera ia serahkan pada Eyang Guru.


 


”Terimakasih anakmas, baiklah aku pergi dulu, Assalamualikum.....”


”Waalaikumussalam warohmatulohi wabarokatuh” kembali mereka bertiga hampir bersamaan menjawab salam.


 


 Mereka terdiam, tidak tahu harus berkata apa, terpukau seraya memandangi punggung Eyang Guru yang berjalan cepat meninggalkan mereka masuk kedalam kegelapan malam. Yang tampak tinggal nyala obor, dari kejauhan tampak bagaikan melayang-layang naik turun diantara pohon singkong, jagung dan pepohonan lain yang sengaja ditanam diladang dan kebun pergurunan.


Dalam hati Kyai Sholeh berkata, memang semakin hebat Kangmas Guru ini, ia berjalan dengan cepat seolah-olah tidak menapak tanah lagi. Seharusnya setelah belokan dibawah pohon bringin putih itu ia turun kearah sungai, namun ia tampaknya meloncat dengan menggunakan tebing dibawah pohon beringin putih itu sebagai pijakan, untuk sampai kesebrang sungai. Atau kangmas memang sengaja mempertontonkan hal itu, melalui cahaya obor yang tetap terlihat melayang-layang, agar aku tidak perlu mengkhawatirkan keadaannya, atau itu tanda agar aku waspada karena ada sesuatu yang akan dihadapinya, Suhanaallah, Maha Suci Allah, Maha Besar Allah dan Maha Perkasa Allah. Lindungilah Kangmas Guru. Kemudian, sebelum kedua santri yang menyertainya sadar akan keadaan yang sebenarnya, Kyai Sholeh segera berkata


 


”Mari anakmas, kita berwudhu kembali dan masuk kemasjid, kita bisa kehabisan waktu sepertiga malam yang sangat baik untuk menyatukan diri kita dengan Yang Maha Agung, Allah Subhanahu Wataala”


”Baiklah, mari kyai, sebentar lagi pasti para siswa akan mulai meramaikan masjid kita ini”


 


Sambil berjalan menuju kulah tempat berwudhu, berbagai macam perasaan berkecamuk dalam hati Marwoto, bahkan lebih hebat dari sebelum bertemu dengan Kyai Sepuh, namun ditahannya perasaan tersebut. Ada perasaan tidak enak, biar nanti saja, setelah usai sholat malam dan sholat subuh aku tanyakan lagi pada Kyai Sholeh pikirnya. Bertiga mereka kemudian berwudhu dan memasuki masjid kembali untuk menunaikan sholat malam yang hampir saja terlupakan. Kali ini seakan-akan ada semacam kesepakatan diantara mereka untuk tidak meperbincangkan Eyang Guru. Mereka sholat malam berjamaah dengan diimami oleh Kyai Sholeh.


 


Tidak terasa sesusai dengan berjalannya waktu, satu persatu para ustad, santri, siswa perguruan berdatangan dan mulai memenuhi masjid untuk sholat malam. Seusai sholat mereka mengaji, berzikir, bersholawat sambil menunggu waktu subuh. Saat ini memang terasa ramai dan hangat didalam masjid. Getaran suara mereka yang mengagungkan asma Yang Maha Agung, Yang Maha Perkasa, yang menciptakan langit, bumi dan isinya hanya dengan sabdaNya, Kun fayakun, jadilah atas kehendakKu, rasanya mampu  menggetarkan jantung setiap makluk yang mendengarkannya, tak terkecuali tumbuh-tumbuhan, binatang bahkan serangga kecil yang tidak pernah ditahui dimana jantungnya sekalipun. Hawa dingin yang saat itu menyelimuti perguruan Al Mukmin seolah-olah tersapu oleh energi hangat yang keluar berhamburan dari dalam masjid. Subhanallah.


 


Waktu subuh tiba, terdengar adzan,............ khomat dan serentak, bergegas, tertib berdiri berjajar, bersaf-saf para santri siswa perguruan dan para ustad membentuk barisan rapih, hening terdiam, khusu’ mencoba menyatukan jiwa, hati, pikiran dan raga dengan kerendahan hati, kesucian diri untuk menghadap, memohon, meratap, menangis dihadapan Yang Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan setiap permohonan.


 


Dua rokaat telah dilalui, sejenak setelah mengucapkan salam pada akhir sholat subuh, terdengar bisikan amat lirih namun bening ”Adimas Guru ajak kedua anakmas, temui aku  dibawah pohon beringin putih” sejenak ada rasa terkejut dihati Kyai Sholeh, karena jelas itu adalah suara Kangmas Guru, namun pasti tidak sedang berada disekitarnya, karena waktu ia mencoba memastikan dengan menengok kebelakang deretan makmun yang sholat dibelakangnya masih utuh, tertib.


 


Kyai Sholeh memperpendek bacaan doanya dan meminta salah satu ustad dibelakangnya untuk meneruskan memimpin doa, Kyai Sholeh kemudian berdiri, pandangannya dia arahkan kekanan, kekiri dan kebelakang barisan makmum yang masih duduk dengan tertib, kemudian pandangannya tertuju pada Adhi dan Marwoto yang duduk berdampingan yang tanpa sadar sedang menatap Kyai Sholeh. Dengan mengedipkan mata dan sedikit menggerakankan kepala Kyai Sholeh memberi tanda agar kedua santri tadi untuk keluar dari safnya dan mengikutinya. Sesampainya dihalaman masjid Kyai Sholeh mengatakan


                                                    


”Anakmas berdua ikut aku kebawah pohon beringin putih, Kangmas Guru baru saja memanggilku dan memintaku mengajak kalian berdua”  


             


Ada perasaan aneh berkecamuk dalam hati Marwoto dan Adhi, kapan Eyang Gurunya memanggil Kyai Sholeh, karena dari semenjak Eyang Guru pergi kemusholla, ia tidak merasa melihat lagi, apalagi mendengar memanggil Kyai Sholeh, kalau toh memanggil pasti dengan suara agak keras dan darimana beliau memanggil, karena sebagai imam sholat tempat Kyai Sholeh berada ditengah dan paling depan, tapi tidak mungkin juga Kyai Sholeh mengada-ada apalagi berbohong kepadanya, ah gak mudeng, semakin tidak mengerti aku, semakin aneh, hingga waktu subuh habispun tekateki tetang masalah Kyai Guru masih belum juga terurai. Namun melihat raut Kyai Sholeh yang bersungguh-sungguh dan bergegas, berjalan dengan cepat meninggalkan mereka keluar halaman masjid menuju jalan setapak, jalan yang tadi malam dilalui Eyang Guru, maka Marwoto dan Adhi tidak berani bertanya, yang mereka lakukan adalah mempercepat langkah menyusul Kyai Sholeh.


Semakin cepat langkah Marwoto dan Adhi bahkan sudah setengah berlari mereka berdua mencoba menyusul langkah Kyai Sholeh, namun rasanya jarak mereka dengan Kyai Sholeh semakin jauh. Terbetik rasa heran dibenak Adhi aneh, Kyai Sholeh termasuk kyai sepuh yang memiliki kepribadian yang sangat tenang, tidak pernah terlihat terburu-buru, berjalanpun pelan, bahkan dalam beberapa kesempatan Adhi beberapa kali memapahnya sewaktu harus naik tangga atau jalanan yang cukup terjal, karena khawatir terjatuh. Namun kali ini jangankan memapah, mencoba menyamai langkahnya saja tidak berhasil. Ilmu apa lagi ini pikir Adhi, langkah Kyai Sholeh tampaknya biasa saja namun tubuhnya seperti berkelebat melayang. Ada sedikit rasa malu dalam pikiran Adhi menyadari kenyataan ini.


Dengan perasaan yang tidak menentu, dengan hati yang berdebar-debar dan napas  tersengal-sengal Marwoto dan Adhi akhirnya dapat menyusul Kyai Sholeh sampai dibawah pohon beringin putih. Sejenak mereka bertiga berdiam diri, Marwoto dan Adhi tidak berani berkata-kata apalagi bertanya. Mereka berdua hanya bisa memandang Kyai Sholeh yang berjalan mondar mandir disekitar pohon beringin putih, sejenak terlihat Kyai Sholeh berhenti, berdiam diri dan memandang kearah musholla yang berada diseberang sungai dibawah pohon randu alas, kemudian ia bergerak kembali berjalan mondar-mandir lagi, tampak Kyai Sholeh sedang gelisah. Tidak lama kemudian terdengar suara langkah seseorang dan terlihat bayangan mendekat, dan semakin jelas ujudnya, Kyai Sepuh dengan jubah putihnya menyampaikan salam ...........................


 


”Assalamualaikum”


”Walaikum mussalam warohmatulohi wabarokatuh” bertiga mereka membalas salam.


”Adimas Guru dan anakmas berdua, tolong  jangan bertanya apa-apa dulu, waktu kita sangat sempit, saya minta tolong anakmas Marwoto untuk membersihkan musholla, jangan kaget disana ada lima orang yang terikat ditiang bagian depan musholla, mereka dalam keadaan pingsan, jaga jangan sampai ikatannya lepas dan anakmas Adhi tolong hubungi anakmas Rahmono, didusun sebelah, dirumah kepala dusun Pring Gading, beliau adalah petugas dari Koramil Watu Gunung, katakan pada beliau pesanan sudah datang dan siap diambil didepan musholla dipinggir sungai. Adimas Guru biar bersama saya kembali kemasjid perguruan, saya rindu ketemu para santri”


”Baik eyang guru, kami mengerti dan kami mohon diri, ............ Assalamualaikum warohmatulohi wabarokatuh”


”Waalaikum mussalam warohmatulohi wabarokatuh”


 


Dengan perasaan yang semakin tidak menentu  Marwoto dan Adhi segera beranjak dari tempat pertemuan dengan eyang gurunya, menuju musholla disebrang sungai. Jalanan menuju musholla menurun agak curam, namun mereka berdua telah terbiasa dengan keadaan itu. Tidak lama mereka berdua telah sampai didepan musholla. Marwoto dan Adhi sesungguhnya termasuk santri yang dituakan diperguruan, selain kemampuan ilmu agama yang mereka kuasai sudah tergolong tinggi, juga mereka sudah tertempa dengan ilmu bela diri, silat dengan tataran yang tinggi pula. Namun saat itu, jantung keduannya  berdegub semakin kuat, ada rasa miris, takut, was-was dan benar mereka berdua melihat lima sosok orang berbadan besar terkulai lemah, pingsan dan dalam ikatan tali yang sangat kuat. Segera mereka berdua tanpa berkata-kata memeriksa kembali ikatan dan nadi orang-orang yang terikat.


 


”Kangmas bagaimana kalau aku tinggal dulu, aku akan melanjutkan perjalanan kedusun sebelah memenuhi pesan Eyang Guru ” ada sedikit rasa khawatir pada diri Adhi untuk meninggalkan Marwoto sendiri, mengingat mereka berdua belum mengetahui ada peristiwa apa sepanjang malam tadi.


 


”Oh silakan dimas, mumpung hari masih cukup gelap, silakan dimas, aku akan baik-baik, melihat keadaannya kelima orang yang terikat ini sampai terbit matahari nanti masih belum akan siuman, jadi tidak berbahaya” jawab Marwoto seolah-olah mengerti akan kekhawatiran Adhi jika meninggalkannya seorang diri.


 


Sepeninggal Adhi, Marwoto masuk kedalam musholla, dinyalakannya lampu tempel yang ada disana. Degub jantung Marwoto terasa berhenti, musholla terlihat berantakan, dinding musholla yang terbuat dari anyaman bambu hampir semuanya terlepas, bahkan sebuah tiang penyangganya patah dan terlepas dari ikatannya. Rupanya baru saja terjadi pertarungan hebat lima melawan satu, didalam musholla yang sempit ini, pikir Marwoto. Siapa orang-orang terikat itu, apa hubungannya dengan Eyang Guru, sehingga mereka tega melakukan penyerangan terhadap Eyang Guru sedemikian rupa. Namun terbetik pula rasa kagum yang luar biasa terhadap Eyang Guru, karena hanya dengan seorang diri mampu mengalahkan lima orang yang berbadan besar-besar. Sungguh digdaya Eyang Guru, sungguh tinggi ilmu beliau. Sambil terus membayangkan jalannya pertarungan, Marwoto terus memeriksa setiap sudut musholla. Hatinya berdesir ketika kakinya terantuk onggokan besi terikat, yang ternyata adalah berbagai jenis senjata tajam, pedang pisau, clurit bahkan tombak yang terbuat dari besi cor. Semakin kagum marwoto pada kemampuan eyang gurunya, yang mampu melumpuhkan lima orang penyerang berbadan besar yang membawa berbagai senjata tajam pula.


 


Sementara Marwoto amencoba sebisanya membersihkan dan membenahi dinding serta tiang penyangga musholla. Adhi dengan terengah-engah, memasuki halaman rumah kepala dusun Pring Gading dan mengetuk pintu seraya memberikan salam ...............


 


”Assalamualaikum ”


”Walaikum mussalam” terdengar serak-serak suara perempuan tua membalas salam dari dalam rumah, seraya membukakan pintu.


”Ada keperluan apa anakmas, sepagi ini datang ketempat kami dan anakmas berasal darimana ?” lanjut perempuan tua itu, sambil menatap Adhi penuh tanda tanya.


”Ibu kami datang dari Perguruan Al Mukmin, diutus Eyang  Guru untuk menemui Bapak Rahmono, yang menurut beliau menginap disini”


”Oh ya betul, anakmas Rahmono memang berada disini, coba aku panggil, silakan anakmas duduk dulu, mudah-mudahan sudah selesai sholat subuhnya”


”Terimakasih ibu” sahut Adhi seraya masuk kedalam ruangan tamu dan duduk disebuah kursi plastik sederhana.


 


Kembali mengembara pikiran Adhi, mencoba membayangkan apa yang terjadi selama ini, mencoba menyatukan peristiwa demi peristiwa yang terjadi diperguruannya, mulai dari kabar tentang ketenaran Eyang Guru didusun-dusun sekitar perguruan akan hal-hal yang bersifat gaib, sampai pada seringnya kedatangan tamu penting dari kota, kemudian seolah-olah Eyang Guru menghilang dari pergaulan dilingkungan perguruan, sampai tiba-tiba muncul dan terjadi peristiwa yang mendebarkan hati dengan terikatnya lima orang berbadan besar didepan musholla kesayangannya. Semakin keras ia berusaha merangkai peristiwa-peristiwa itu, semakin pening kepalanya, sampai-sampai tanpa sadar ia tertidur.


 


Sementara itu Kyai Sepuh bersama Kyai Sholeh berjalan kembali kearah Masjid Perguruan sambil berbincang. Terdengar Kyai Sholeh berkata agar bergetar suaranya menahan emosi.


 ”Tega sekali mereka itu Kangmas Guru, akan menjadikan tempat kita sebagai basis perlawanan terhadap pemerintahan yang sah. Mereka rupanya tidak paham dengan misi kita yang mengajarkan kasih sayang sebagai alat untuk membangun diri, sebagai alat untuk bersilaturahim dengan sesama maupun dengan lingkungan, alam sekitar. Mereka tidak paham bahwa sejak para leluhur kita, eyang-eyang kita membangun perguruan ini, tidak pernah ada satupun pelajaran yang mendorong siswa, para santri perguruan untuk berseberangan dengan pemerintah yang sah. Jangankan dengan pemerintah negara yang besar dan agung ini, rasa-rasanya dengan para pamong didusunpun kita jaga betul untuk tidak bersebrangan”


”Yah itulah Adimas Guru, yang selalu meresahkan hatiku sejak muda, mengapa selalu ada saja kelompok-kelompok yang berusaha meraih sesuatu dengan jalan pintas. Padahal mereka itu kebanyakan orang-orang yang berilmu, pintar, pandai, modern yang konon lulusan sekolah-sekolah yang terkenal dari manca negara, bukan seperti perguruan kita ini dan sering pula mereka menyebut dirinya beradab, berbudaya........... Napsu Adimas Guru, napsu keserakahan telah membelenggu mereka”


”Tapi Kangmas Guru, sejak kapan sebenarnya mulai mengamati kelompok-kelompok itu dan ..................”


 


Perbincangan kedua kyai sepuh tersebut terhenti, karena tanpa terasa perjalanan mereka telah memasuki halaman masjid perguruan dan bersamaan dengan itu para siswa, ustad berbondong-bondong datang menyambut, saling berebut untuk menyalami dan mencium tangan kedua kyiai sepuh. Beberapa ustad tampak matanya berkaca-kaca, bahkan menitikan air mata. Rasa haru, senang, syukur, rindu menjadi satu yang kemudian bermuara dalam bentuk titik-titik air mata kebahagiaan, Alhamdulillah.


  


Cukup pulas Adhi tertidur, sampai lamat-lamat ia mendengar dan merasakan ada beberapa orang disekitarnya.


 ”Anakmas tampaknya sangat lelah, silakan minum dulu, mumpung kopinya masih panas”


”Terimakasih” tergagap Adhi menjawab pertanyaan, setengah malu, karena tertidur. Kemudian diteguknya kopi panas yang disuguhkan kepadanya, Alhamdulillah nikmat betul kopi ini katanya dalam hati.


”Perkenalkan saya Rahmadi, kepala dusun disini, dan ini adik saya Sersan Rahmono dari Koramil Watu Gunung, ia dan beberapa temannya dari Koramil dan Polsek sedang bertugas disini”


”Oh ya, terimakasih Bapak, saya diutus Eyang Guru dari Perguruan Al Mukmin, untuk menyampaikan pesan kepada Bapak Rahmono”. 


 ”Kalau boleh tau apa pesan itu, anakmas” tanya Sersan Rahmono.


”Eyang Guru hanya menyuruh saya menyampaikan bahwa pesanan sudah datang dan siap diambil didepan musholla dipinggir sungai,  begitu saja”


”Bagaimana anakmas, pesanan sudah datang dan siap diambil?” sersan Rahmono mencoba mengulangi perkataan Adhi.


”Benar demikian pesannya” sahut Adhi sambil menganggukan kepalanya.


”Alhamdulillah, Subhanallah, sudah paripurna kalau begitu Kangmas” kata Sersan Rahmono sambil memandang kakaknya, Rahmadi.


”Ya Dimas kalau begitu segera kita bergerak. Marilah anakmas kita bersama-sama mengambil pesanan tersebut dimusholla dipinggir kali”


 


Enam, tujuh, delapan, sembilan orang anggota tentara dari Koramil dan polisi dari Polsek Watu Gunung, terlihat mereka begitu sigap, segera berkumpul dalam lingkaran kecil ketika Sersan Rahmono memanggil, kemudian memberikan penjelasan seperlunya dengan suara yang pelan namun tegas. Yang terdengar dari luar lingkaran hanya kata-kata ”Siap pak, ....siap pak....siap pak.”  Ditambah Adhi dan Kepala Dusun Pring Gading, mereka bersebelas orang kemudian berjalan beriringan, cepat, bergegas dengan langkah panjang menuju Perguruan Al Mukmin. Diantara mereka ada yang membawa senjata laras panjang, namun lebih banyak yang hanya membawa pistol dipinggangnya. Tidak ada satupun yang berkata-kata, semua terdiam namun dari gerak tubuh, langkah dan tegapnya badan orang-orang dari Watu Gunung ini,  menandakan mereka adalah orang-orang yang sangat terlatih, orang-orang yang biasa menghadapi situasi yang tidak menentu, orang-orang yang tertib, disiplin dan taat atas perintah penugasan.


 


Hari semakin terang, semburat merah kekuning-kuningan telah sejak tadi mewarnai langit. Suara berbagai burung terdengar semakin ramai, sementara suara kokok ayam jantan juga semakin sering terdengar bersahut-sahutan, seolah ingin mengatakan bahwa  keriuhan tersebut merupakan orkestra yang menyanyikan lagu-lagu perjuangan untuk memberi semangat pada pasukan yang akan maju kemedan perang. Rasanya pagi ini sangat ramai, udarapun lebih segar, ada semangat, tidak seperti hari-hari yang lalu, menjemukan, berkata Adhi didalam hati, namun tetap saja aku masih tidak mengerti dengan berbagai peristiwa yang terjadi pada beberapa hari ini dan terakhir dengan kejadian semalam.


 


Semakin cepat langkah barisan, seolah-olah tidak ingin kedahuluan siapapun. Adhi sengaja memperlambat langkahnya dan berjalan dibelakang barisan tentara dan polisi yang dipimpin Sersan Rahmono, selain ada perasaan segan berjalan diantara mereka, ia memanfaatkan keadaan untuk dapat berdekatan dan sekaligus berbincang dengan Rahmadi, kepala dusun Pring Gading yang sejak awal memang  berjalan dibelakang, walaupun tidak kalah sigapnya dengan barisan yang berada didepannya. Aku akan bertanya pada Pak Rahmadi tentang semua ini, bisik hati Adhi.


 


”Anakmas, bagaimana kabar keadaan Kyai Sepuh ?” sambil tersenyum Rahmadi membuka percakapan, melihat Adhi mendekatinya.


”Alhamdulillah semalam dan subuh tadi sewaktu kami bertemu, tampaknya keadaan beliau baik-baik saja”


”Syukurlah kalau begitu, aku sangat mengkhawatirkan keadaannya”


”Bapak, kalau boleh saya tahu, ada peristiwa apa sebenarnya disekitar dusun kita ini ?   


Telah bertahun-tahun saya berada diperguruan, hidup bersama-sama para siswa, ustad dan yang lainnya, serta bergaul dengan kawan-kawan dari dusun-dusun sekitar perguruan, sehari-hari terasa nyaman menyenangkan, namun beberapa hari terakhir ini suasana batin kami para santri seperti berubah sama sekali. Ada rasa was-was, takut, ngeri tak menentu yang agak berlebihan, semua itu menjadikan beban pikiran kami para penghuni perguruan ”


”Anakmas, sesungguhnya perasaan itu bisa menghinggapi siapa saja yang kebetulan dianugerahi Allah kelebihan didalam olah batin, seperti yang anakmas rasakan. Bukankah perasaan seperti itu dapat menjadi pertanda akan datangnya sesuatu peristiwa yang luar biasa. Namun kembali kepertanyaan anakmas tadi, kami para pamong sesungguhnya juga tidak terlalu paham dengan kejadian diperguruan Al Mukmin. Adiku Rahmono pernah mengatakan, bahwa Kyai Sepuh pada suatau tengah malam pernah menghubunginya dan menceritakan ada gerakan sekelompok orang yang ingin menjadikan Perguruan Al Mukmin sebagai basis pergerakan yang bisa mengacaukan ketentraman masyarakat dan merugikan negara. Aku sendiri tidak paham dengan persolan itu, karena pada saat aku bertanya lebih jauh, adikku Rahmono mengingatkan aku agar untuk sementara jangan terlalu banyak membicarakan hal itu, mengingat sesuatunya masih sangat gelap”


 


Bagi Adhi persoalan Eyang Guru memang tidak kunjung jelas malahan semakin rumit. Kalau kemarin persoalan yang bisa dicerna hanya masalah adanya orang-orang Jakarta yang marah kepada Eyang Guru, karena menganggap Eyang Guru tidak bersedia mendukung keinginannya, kini ada berita tentang kelompok orang yang akan menjadikan perguruannya sebagai basis pergerakan yang akan merugikan negara, ah pening kepalaku katanya dalam hati. Merasa berbincang dengan kepala dusun Pring Gading tidak juga bisa membuat hatinya lapang, Adhi kemudian memilih berdiam diri. Selain itu langkah barisan yang diikuti,  semakin cepat, justru pada jalanan yang mendaki dan berkelok-kelok.


 Matahari sudah hampir sepenggalah, sinar mata hari pagi telah menerobos masuk diantara dedaunan. Rasa hangat sinarnya sudah mulai terasa ditubuh-tubuh kekar tegap anggota barisan. Tidak lama kemudian barisan telah sampai dipinggir sungai. Bangunan musholla sudah mulai tampak. Sersan Rahmono memberikan tanda, aba-aba melalui gerakan tangannya, serentak para anggota tentara dan polisi dibelakangnya mempercepat langkah dan anggota barisan pembawa senapan laras panjang yang semula berada dibelakang barisan, merubah posisinya menjadi didepan. Tampak mereka semakin bersiaga. Beberapa puluh meter dari sebelah barat bangunan musholla, barisan berhenti, kembali Sersan Rahmono memberi aba-aba dengan tangannya, kemudian terlihat anggota barisan berpencar dan mengelilingi musholla. Seorang anggota polisi berbisik kepada Rahmadi agar menunggu ditempat dan tetap waspada. Hati Adhi berdebar-debar, dimana gerangan Kangmas Marwoto, namun tidak lama kemudian terlihat Marwoto bersama Sersan Rahmono dan memberi tanda agar Adhi dan Kepala Dusun Pring Gading mendekat. Alhamdulillah, lega rasanya Adhi. Ia kemudian bergabung kembali dengan Marwoto.


Sementara anggota tentara bersiaga mengelilingi lima orang berbadan besar yang masih terikat, beberapa anggota polisi berpencar, sebagian masuk kedalam musholla dan sebagian lagi berada diluar. Mereka mengamati setiap sudut musholla, memperhatikan setiap jengkal tanah, sebentar berdiri, sebentar berjongkok, kadang disapunya beberapa bagian dinding mushola dengan sejenis kwas, berbincang dengan sesama temannya, kemudian mencatat dalam buku kecil, mengambil serpihan-serpihan benda dengan hati-hati dimasukan kedalam kantung plastik. Mereka sangat teliti, namun cekatan. Tidak lama kemudian Sersan Rahmono berbincang dengan anggota polisi, terlihat keduanya mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian Sersan Rahmono mendekati Marwoto dan berkata.........


 


”Baiklah Adimas Marwoto, mumpung hari belum terlalu siang, kami akan segera bawa para tawanan ini ke Watu Gunung, untuk diproses lebih lanjut, sampaikan salam hormat kami kepada Kyai Sepuh dan sampaikan pula pesan, bahwa beberapa hari mendatang kami akan berkunjung kepada beliau”


”Baik Kangmas nanti akan aku sampaikan”


 


 Segera Sersan Rahmono, memerintahkan agar para tawanan diberi minum dan kemudian   dibuat ikatan pada tangan dan kaki para tawanan dan dibuat pula ikatan tali yang menghubungkan tawanan yang satu dengan yang lain, agar mereka tidak lari. Setelah siap Sersan Rahmono menyuruh mereka para tawanan berdiri dan berjalan beriringan. Dengan kawalan yang ketat para tawanan berjalan beriring-iringan menuju Dusun Pring Gading dan terus ke Watu Gunung. Selanjutnya Sersan Rahmono dan Rahmadi, menyalami Marwoto dan Adhi seraya menyampaikan terimakasih dan kemudian berpamitan.


 


Sepeninggal rombongan dari Watu Gunung yang membawa tawanan, Adhi dan Marwoto masih tinggal dan berusaha memperbaiki musholla, sebisa mungkin untuk menghidari pertanyaan dari para siswa yang kebetulan lewat atau menggunakan musholla tersebut. Keduanya seperti bersepakat untuk sementara waktu tidak membahas peristiwa yang terjadi semalam dan mereka berusaha keras untuk dapat secepatnya memperbaiki musholla.


 


Semilir angin lembah bagaikan selendang sutra mengusap bagian tubuh  beberapa siswa yang terbuka tanpa sadar, membuatnya semakin terkantuk-kantuk dan tertidur pulas. Serambi masjid perguruan mungkin  termasuk tempat yang paling nyaman untuk beristirahat, tidur ...................namun kemudian mereka tersentak bangun pada saat adzan sholat Asar berkumandang, tidak sadar mereka bahwa disekitarnya telah banyak siswa santri yang duduk sambil membaca catatan masing-masing, menanti waktu sholat. Segera yang tadi tertidur, bangun dan bergegas mereka menuju kulah tempat mengambil air wudhu.


 


Kemarau memang masih berkepanjangan dan awan hitam masih juga enggan menurunkan hujannya. Semilir angin lembah menggoyang-goyangkan ilalang seolah menggeleng, tidak tahu sampai kapan kemarau akan berakhir. Namun kehidupan disekitar Perguruan Al Mukmin sudah kembali seperti sediakala, orkestra gesekan daun bambu, gemericik air sungai, suara parau serangga, dan suara berat burung malam sudah menghiasi kehidupan perguruan kembali. Perjalanan keseharian di Perguruan Al Mukmin sudah normal, keceriaan para siswa, santri, ustad perguruan sudah pulih. Canda, gurauan, seloroh para ustad ketika mengajar sudah menjadi santapan sehari-hari kembali.          


 


 Dalam bebrapa hari terakhir ini, hampir semua koran yang terbit diibukota propinsi menyiarkan berita dengan judul  berhuruf besar, tentang adanya amuk masa diberbagai kabupaten, kecamatan bahkan desa dan dusun. Banyak orang yang diduga, dituduh dukun santet, tukang tenung, penyihir, penggendam dihakimi masa. Banyak pula diantara korban ternyata adalah para ustad, kyai, guru ngaji yang tidak berdosa dan tidak tahu menahu  bahkan tentang ilmu santet, tenung, sihir, gendam itu sendiri, karena mereka memang tidak pernah mempelajarinya. Mereka hanya belajar dan mengajarkan tetang kasih sayang dalam bersilaturahim dengan sesama dan alam sekitarnya. Semoga Allah Subhanahu Wataala mengampuni mereka.


 


                                                                                                               


                                                                                                       Jakarta, Mei 2007 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar